Rabu, 07 Desember 2016

Diary in December

Sejak awal aku memang tidak percaya cinta pada pandangan pertama, yang aku tau hanya nafsu atau suka pada pandangan pertama yang disalahartikan menjadi cinta. Tapi entah setelah mengenal dia aku justru malah percaya kalau aku jatuh cinta pada pandangan pertamaku. Dia, laki-laki yang membuat aku bisa membuka hatiku kembali setelah sempat tertutup karena patah hati terhebatku oleh laki-laki yang aku kenal 4 tahun lalu. Awalnya aku fikir dia yang aku kenal dulu itu berbeda dengan laki-laki lain, semuanya terlihat berbeda menurutku, dia berhasil membuat aku jatuh cinta yang sejatuh-jatuhnya tapi sayangnya aku tidak bisa mengontrol hatiku. Setelah kejadian itu aku mulai menghapus semuanya, semua pemberiannya, membuang foto yang aku pajang di dinding kamarku, menghapus semua foto yang ku simpan di handphone-ku, membakar semua yang dia pernah berikan, menghapus semua kontak dan media sosialnya, bahkan aku tidak ingin adalagi orang yang menyebutkan namanya di depanku apalagi bertemu dan bertatap muka dengannya. Aku ingin semua tentangnya hilang. Hatiku seakan diremas, sakit luar biasa entah kenapa. Aku tenggelam dalam drama yang kuciptakan sendiri. Kalau difilmkan, mungkin ini jadi klimaksnya, aku duduk sendiri dibawah hujan, menunggu yang tidak datang. Tapi ini bukan film, ini nyata, tidak ada credit title setelah ini, hidup harus kembali berjalan. Kutatap senja sebelum akhirnya langit menggelap, menelan semua cahaya seperti dia menelan kebahagiaanku. Aku berusaha hingga akhirnya aku lelah dan aku rasa semuanya sia-sia, 4 tahun adalah waktu yang cukup lama jika harus aku lupakan dengan waktu yang singkat, aku melakukan cara lain yaitu menyibukkan diri. Aku fikir menulis adalah cara untuk mengisi kekosongan waktuku tapi ternyata tidak, menulis justru membuat aku mengingat dia karena disaat aku menulis aku justru teringat dia dan akhirnya aku putuskan untuk tidak menulis lagi, semuanya sudah aku lakukan dan hasilnya tidak berubah rasa ini tetap saja melekat dihati. Aku pasrah, aku menyerah.. semuanya memang harus terjadi aku tidak bisa menyalahkan siapapun apalagi takdir, aku berfikir untuk menjadi dewasa karena ibuku bilang “sakit hati itu bisa membuat kita untuk berfikir dewasa” aku mulai membiasakan diri melakukan kegiatan rutinku, membiasakan diri dengan semuanya dan melawan luka yang belum kering. Semuanya butuh perjuangan, aku juga berdoa agar semua lukanya lekas kering. Tuhan mendengar doaku, Tuhan melihat perjuanganku memang benar apa yang dikatakan dosenku “jangan berharap kepada manusia karena mereka akan mengecewakanmu. Tetapi berharaplah hanya kepada Allah karena Dia akan memberikan yang terbaik untukmu.” Fikiranku kembali tenang, aku membuat semuanya menjadi baru, semua hal yang dulu pernah aku alami aku jadikan sebuah pelajaran. Aku percaya bumi tidak akan pernah berhenti berputar ketika kau memilih untuk berhenti melangkah. Jadi, berjalan sajalah, dengan atau tanpa seseorang disisimu. Hatimu akan sembuh jika kau sendiri yang mau mengobati, dan untuk mengobati, memang diperlukan waktu. Tapi kau salah, jika kau merasa kau butuh waktu untuk melupakan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, ucap Bung Karno. Jika karena patah hati kau berharap lupa, lalu bagaimana kau mau belajar? Kehidupan memberi kita pelajaran disetiap langkah yang kita ambil. Dan tidak semua pelajarannya menyenangkan. Meski pelajarannya menyakitkan, toh kita belajar. Kita belajar untuk tidak jatuh di lubang yang sama, kita belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dan kita belajar bagaimana caranya mengikhlaskan.
Setelah patah hati terhebat itu aku merasakan jatuh hati kembali, seperti pertama kalinya aku merasa jatuh hati pada lawan jenis. Laki-laki yang aku ceritakan pada bagian awal tulisanku, laki-laki yang bisa menghapus bersih lukaku dulu. Aku selalu percaya pada sebuah kebetulan, karena kebetulan adalah takdir yang menyamar. Sayangnya, kita memang belum terlalu akrab untuk sekedar mengobrol dan bertukar fikiran, kita hanya bisa tegur dan sapa. Aku termasuk perempuan yang susah jatuh cinta, tapi kali ini laki-laki itu berhasil membuat aku jatuh hati. Jika saja aku bisa menerawang hati seseorang aku tidak akan dihantui oleh rasa penasaranku. Sebab, jika aku tau itu adalah sebuah strategi untuk melumpuhkan hati perempuan lebih baik aku tidak mengenalnya daripada aku harus membuat luka baru. Saat ini dia bisa menutup bahkan menghapus luka tapi entah kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya, mungkin saja dia patah hati terhebatku selanjutnya. Entah, aku tidak ingin merasakan hal seperti itu lagi aku hanya ingin mencintai dengan wajar.


Desember, 7th 2016