Rabu, 22 April 2026

Merayakan Lelah: Sebuah Catatan Kecil tentang Ibu Dua Anak

Halo semua. Hari ini aku ingin sedikit bercerita, bukan sebagai sosok yang selalu terlihat "sempurna" di media sosial, tapi sebagai seorang Ibu yang sedang berjuang di dunianya yang kecil namun sangat ramai.

Kalau ada yang tanya gimana rasanya jadi Ibu dari anak kembar, jawabannya cuma satu: A beautiful chaos.


Keputusan yang Tak Pernah Kusesali

Perjalananku dimulai tak lama setelah menyandang gelar sarjana. Di saat teman-teman sebayaku mungkin sedang mengejar karier di gedung perkantoran, aku memilih untuk menikah dan langsung dititipkan amanah luar biasa: anak kembar. Jujur, aku tidak pernah menyesali peranku sebagai Ibu Rumah Tangga. I embrace this role with all my heart. Bisa menemani setiap detik pertumbuhan mereka, melihat milestone demi milestone secara langsung, itu adalah kemewahan yang tak ternilai harganya.

Tapi, aku tetap manusia biasa. Fase lelah itu pasti ada. Ada kalanya rumah terasa sangat sempit karena riuhnya suara tangisan dan tawa yang bersahutan. Jangankan mau me-time berjam-jam, sekadar mau ke kamar mandi saja butuh perjuangan luar biasa agar mereka bisa "lepas" sebentar. It’s exhausting, both physically and mentally.


Mencari Jati Diri di Sela Kesibukan

Kadang, memori masa lalu suka mampir di kepala. Dulu, aku adalah perempuan yang aktif berinteraksi dengan banyak orang, ikut berbagai kegiatan untuk menambah wawasan, atau sekadar datang ke acara book tour penulis kesayangan. Aku memang bukan tipe orang yang suka keramaian konser musik, kecuali kalau itu konser tunggal penyanyi favoritku.

Dulu, aku punya kendali penuh atas waktuku sendiri. Sekarang? Waktuku adalah milik mereka.

Ada keinginan kecil di sudut hati: I just want one day to celebrate myself. Sehari saja untuk mencari kembali jati diriku yang dulu, tanpa harus mendengar panggilan "Ibu" setiap lima menit. Hanya sehari untuk bernapas pelan dan melakukan apa yang aku suka. Tapi lucunya, aku sendiri tahu—baru satu jam jauh dari mereka pun, rasanya pasti sudah rindu setengah mati. I can’t stand being away from them for too long.


Lelah yang Berkah

Di tengah rasa lelah yang luar biasa, aku selalu mencoba untuk tetap think positive. Aku percaya bahwa apa yang aku jalani sekarang, setiap keringat dan rasa kantuk yang aku tahan, semuanya atas ridho Allah. Aku yakin Allah senang dengan lelahnya seorang Ibu yang tulus mengurus keluarganya. Lelah ini bukan sekadar capek, tapi ini adalah bentuk ibadahku.

Mungkin aku belum sempurna sebagai Ibu. Masih sering merasa ingin mengeluh, masih sering ingin "kabur" sejenak. Tapi melihat mata bening mereka saat tertidur, semua rasa lelah itu rasanya menguap begitu saja. I am tired, but I am beyond grateful.


Terima kasih sudah membaca curahan hati ini. Untuk para Ibu di luar sana yang mungkin sedang merasakan hal yang sama: kalian hebat. Lelahmu itu berharga, dan tak apa sekali-kali ingin merayakan diri sendiri. Karena untuk menjaga kebahagiaan anak-anak, kita juga perlu menjaga kebahagiaan diri kita sendiri.


With love,

Seorang Ibu yang Sedang Belajar.

Jumat, 07 Desember 2018

11 tahun yang lalu.


Hari ini, 11 tahun yang lalu, dengan hari, tanggal dan bulan yang sama, gue kehilangan “teman hidup” gue. Kenapa gue bilang teman hidup? Karena dia bisa menjadi siapa aja, selalu ada saat gue butuh. Dia adalah sepupu gue, kami lahir ditahun yang sama, bedanya gue bulan awal dia bulan akhir. Karena dia anak dari uwa—kakaknya bapak, jadi gue manggil dia dengan sebutan aa—karena gue asli sunda, meskipun kalau dihitung dari bulan lahir, gue yang lebih tua.

Nggak kerasa udah 11 tahun dia pergi, masih dengan suasana hati yang sama, jangan tanya sedih atau nggak. Perlu waktu selama 1 tahun gue bisa ikhlasin dia pergi. Sebenarnya nggak baik lama-lama larut dalam kesedihan, tapi berat rasanya lewatin waktu tanpa dia. Dari lahir kami udah sama-sama, apapun selalu berdua. Orangtua kami nggak pernah ada di rumah—karena kerja, tapi nenek selalu setia nemenin kami berdua, karena kami diurus oleh nenek—Ibunya Ibu, lokasi tempat tinggal kami sama—di Komplek BTN Margagiri, sejak lahir sampai duduk di kelas 1 SD, dia pindah rumah yang lumayan jauh dari tempat tinggal sebelumnya, tapi kami nggak pernah libur untuk ketemu. Setiap hari libur dia selalu maksa gue buat nginep di rumahnya, nggak jarang gue nolak karena saat kecil gue nggak bisa kalau jauh dari rumah. Tapi sekeras apapun gue nolak, dia selalu menang, beda lagi kalau gue yang ajak dia nginep di rumah, alasannya 1, nggak ada kipas. Dulu, pas gue kelas 1 SD, kipas listrik ‘tuh jarang banget, makanya hanya beberapa rumah yang pake. (keliatan tua banget ‘kan jadinya-_-). Gue sering banget diejek item sama dia, tapi emang kenyataanya gitu, sih, gue nggak bisa menyangkal karena memang kulit dia putih, tapi gue sama sekali nggak marah, malah gue ketawa pas dia ngejek gitu. Dia punya 2 kakak laki-laki, kami selalu main bertiga—dengan kakak kedua, naik kelas 2 SD lagi musim banget game Nintendo, karena dia adalah anak yang rajin nabung, dia rela habisin uangnya demi beli game itu. Gue yang nggak ngerti cara mainnya, cuman bisa liatin aja. Lama-lama gue paham cara mainnya, akhirnya gue diajak main game yang 2 player, gue selalu jadi pemain cadangan, nggak pernah jadi yang pertama. Gue lupa nama permainannya apa, tapi disitu gue menikmati banget, akhirnya gue jadi sering nginep di rumahnya, karena ada iming-iming game. Nggak lama setelah ada Nintendo, keluarlah PS—Playstation, alat game yang lebih canggih dan macam-macam permainannya juga lebih bagus, lagi-lagi dia harus keluarin tabungannya dan ditambah dari uang orangtuanya untuk beli barang itu. Gue nggak perlu beli buat di rumah, karena minjem aja udah cukup.

Nggak akan pernah ada habisnya kalo ceritain semua tentang dia, lagi-lagi gue lemah kalau harus inget semuanya, selalu ngerasa kalau dia masih ada, dan kalau dia masih ada, dia akan jadi orang pertama yang nampung curhatan gue, yang rangkul gue kalau gue lagi galau, yang ngehibur dengan sikapnya yang lucu yang nggak pernah ilang dari ingatan gue sampai sekarang.

A, makasih selama aa hidup, aa selalu nemenin, selalu inget kalau beli sesuatu harus 2, selalu ngehibur dengan sikap konyol aa yang nggak pernah terlihat sedih. Inget nggak a, sebelum aa pergi, malamnya aa nginep dirumah, tumben, padahal biasanya aku yang sering diajak nginep. Biasanya kita tidur awal, tapi malam itu, sampai jam 11 malam kita masih buka album foto kita pas kecil, dan nggak ada sedikitpun firasat muncul difikiranku saat itu. Dalam foto itu usia kita kurang dari 5 tahun, kita duduk berdua diatas kasur dan dikelilingi boneka kelinci, aku yang nggak pernah bisa senyum kalau foto, beda sama aa yang selalu senyum kalau depan kamera. Sangat disayangkan fotonya hilang sejak aku pindah rumah. Besoknya kita sarapan bareng, dan itu sarapan terakhir kita, nggak nyangka akan secepat dan sesingkat itu, dan siangnya dengar kabar kalau aa kecelakaan, seketika semuanya berhenti, lemas, sesak, sempat nggak percaya, bahkan sampai sekarang. Padahal kita masih punya mimpi yang belum terwujud, banyak banget.

Udah, gue nggak cukup kuat buat ngelanjutin ini semua. Karena sekuat apapun gue tahan, air mata tetep keluar gitu aja. Buat kalian yang baca ini, gue titip doa ya buat dia; Gemara Didabrata bin Cecep Komara. Semoga kebaikan kalian dibalas oleh Allah swt. Aamiin. Al-fatihah…………


Jumat, 09 November 2018

Random.


Hari Jum’at, pukul 07:06 WIB pagi hari. Kalian tau gue lagi ngapain? Gue lagi duduk diatas kasur, masih pakai baju tidur, udah ngemil momogi sebungkus, dan sampahnya masih ada disamping gue. Tenang aja gue udah cuci muka dari air wudu kok, dan sikat gigi juga. Hari ini kuliah libur, nggak ada agenda jalan-jalan, nggak ada buku yang bisa dibaca, nggak ada drama korea yang harus ditonton, karena wifi di rumah belum dibayar, dan nggak ada orang yang harus gue telfon hanya untuk bilang “udah salat subuh tadi?“ iya, nggak ada. Sekarang gue bingung mau ngapain, makanya gue nulis. Dengan suasana yang sejuk karena pagi ini gerimis jadi bikin mager, apalagi ditemani teh hangat dan cookies, dan ekspetasi kalian tentang itu akan buyar ketika kalian tau realitanya nggak kaya gitu. Pagi ini emang hujan, tapi nggak ada teh hangat dan cookies disamping gue.

Oke, cukup, supaya waktu kalian nggak sia-sia karena baca tulisan nggak jelas ini, kita masuk ke pembicaraan yang serius. Tapi nggak serius-serius amat. Jadi gini, akhir-akhir ini gue ngerasa ada yang beda di diri gue sendiri, semacam ada yang berubah tapi tidak ada yang berbeda. Paham nggak? Sama, gue juga nggak paham. Jangankan oranglain buat memahami gue, gue aja kadang nggak ngerti sama diri gue sendiri. Perubahan itu melangkah menuju arah yang lebih baik ‘kan? Tapi kenapa gue malah ngerasa sebaliknya, gue yang dulu banyak omong sekarang lebih senang diem, yang dulu senang kumpul dengan orang banyak sekarang malah lebih senang menyendiri. Ada yang salah pada diri gue? gue nggak tau, gue bener-bener bingung, kalau dibandingkan hidup gue yang dulu dengan yang sekarang rasanya berubah 360 derajat! Ada seseorang pernah bilang, “ketika dewasa, kita akan menemukan diri kita yang sebenarnya,” setelah gue pikir lagi, jadi selama ini jati diri gue kaya gini? Diem dan suka menyendiri? Ah nggak, tuh. Gue masih suka kelayaban main sama teman, sampai kadang males pulang. Gue juga masih suka banyak omong ketika didepan orang. Gue masih sama seperti dulu, kok. Setelah gue nonton di YouTube tentang sifat manusia, dan  ternyata sifat manusia itu ada dua, introvert dan ekstrovert. Dulu, gue sama sekali nggak tau arti dari dua kata itu apa, sampai akhirnya gue coba menyelami keduanya, mulai kepo segala hal tentang kedua sifat ini. Gue nggak bisa nyimpulin gue berada di sifat yang mana, karena setelah gue baca tentang kedua sifat ini, keduanya ada juga di diri gue. Itulah kenapa gue nggak pernah konsisten. Apakah gue punya kepribadian ganda? Ah sepertinya itu mustahil. Gue yang dulunya aktif diberbagai bidang di sekolah, dari mulai SD, semua acara gue ikutin, sering ngomong didepan orang banyak, dan sama sekali nggak ngerasa takut atau malu, masuk ke SMP, gue ikut semua kegiatan ekstrakulikuler di sekolah, bahkan gue sempat jadi wakil ketua osis dan ketua pemimpin putri di pramuka, dan lagi-lagi gue berani kalau disuruh ngomong di depan umum, nggak ada rasa takut sama sekali, malah gue ngerasa energi gue bertambah ketika melakukan hal tersebut. Belum lagi beberapa perlombaan pidato yang sering banget gue ikutin, olimpiade sains pas SMP, debat juga, tapi kenapa sekarang malah jadi “ciut”? yang keluarga gue tau, gue anak yang aktif di sekolah, peringkat nggak pernah lebih dari 3, setelah masuk kuliah semua berubah, seperti ada sesuatu yang masuk ke diri gue dan mengendalikan otak dan pikiran gue. Entah itu apa, yang jelas gue benci ini. Gue nggak mau dicap jadi orang bodoh, tapi gue nggak mau belajar, gue juga nggak mau dicap jadi orang pasif tapi gue nggak mau berbicara. Aneh. Jawaban dari orang lain yang sering bilang ke gue ketika gue curhat masalah ini adalah, “mungkin karena lo nggak pernah mau belajar,” ga pernah belajar? terus tiap malem gue selalu baringan dilantai buat baca buku atau pelajari materi sebelumnya itu namanya apa? Dan beresein tiap resume atau kerjain ppt sendirian apa namanya? Dari kecil gue selalu dipaksa untuk belajar, orangtua selalu nuntut supaya gue selau ranking 1, dan minimal 3 besar, dan semua kemauan itu gue pertahankan sampai SMP. Ketika memasuki masa SMA gue mulai kurang mikirin tentang ranking, yang penting gue paham sama materinya. Bukan nggak ngikutin kemauan orangtua, gue cuman mau ngasih kesempatan supaya oranglain juga bisa merasakan berada diatas, dan dihargai karena nilai lo bagus-bagus, karena di Negara kita, siapapun yang ranking 1 itu tandanya dia pintar, tapi mereka nggak tau proses apa yang dia lakukan sampai dia dapat peringkat 1. Tapi “jeda” gue kelamaan, gue terlalu santai sampai akhirnya tertinggal jauh dari orang-orang yang gue kasih kesempatan itu. Akhirnya gue nggak bisa mempertahankan peringkat 3 besar gue sampai lulus SMA. Meskipun lo udah abis-abisan belajar tapi lo nggak bisa dapat ranking 1 dikelas, itu tandanya lo masih dianggap belum pintar, karena mayoritas manusia menganggap ranking adalah hal yang paling istimewa. Hanya beberapa yang paham maksud dari tulisan ini. Tapi sebenarnya gue sendiri takut setelah gue baca ini orang akan bersikap beda ke gue, atau malah ada yang kontra karena mereka ngerasa gue berbeda dari apa yang gue tulis. Sejauh ini gue masih belum tau jenis sifat gue ini apa. Tapi, gue punya 1 faktor yang jadi kunci utama jawaban ini, dan jawaban itu bersifat pribadi, gue masih belum tau pasti benar apa nggak. Faktor lainnya, mungkin salah satunya adalah faktor lingkungan. Mungkin faktor lingkungan gue dulu yang bikin gue nyaman, akhirnya bikin gue jadi easy going dan confident. Tapi bukan berarti lingkungan gue yang sekarang buruk, nggak gitu. Perbedaan itu gue rasakan ketika gue masuk kuliah. Sekarang diem sedikit aja udah dikira marah, atau nggak mau ikut bareng-bareng aja dikira nggak solid. Dulu, mana ada yang kaya gitu, semua adem adem aja. Gue tipe orang yang mikirin sesuatu itu sampe kebawa mimpi, ada orang yang kesel sama gue, gue pikirin sampe gimana caranya orang itu biar nggak marah. Kesalahpahaman itu bikin gue pusing, bukan otak yang main, hati juga. Gue selalu nyimpulin apapun itu pake hati, makanya jadi sering baper.

Sejauh ini obrolan serius gue, rumit dan nggak nyambung, dan gue sendiri nggak ngerti apa yang baru gue ketik tadi. Cuman ngeluarin unek-unek aja, soalnya nggak ada lawan bicara, cuman ada bantal sama boneka. Yaudah gue mau lanjut tidur dulu, mumpung free day dan cuaca sangat mendukung buat tidur.

Dah, sampai juga di blog gue selanjutnya! :)

Jumat, 26 Oktober 2018

Tahu Diri

Tak banyak yang berubah dari pertemuan kita tempo hari. Kita masih saling bertegur sapa. Kita masih saling mencuri pandang. Kita masih saling mengetahui bahwa ada yang belum selesai di antara kita; perasaanku.

Padahal sudah kucoba menguburnya secermat mungkin, bahkan dari ingatanku sendiri. Namun, kehadiranmu yang selalu tertangkap kamera hati, tak mungkin bisa kupungkiri. Ada yang selalu tertangkap mata, dan di dalam jangkauannya kamu selalu ada. Ada yang selalu terdeteksi indera penciuman, dan segalanya hanya tentang harum tubuhmu yang tak mampu terlupakan.

Entah apa maksud di balik pertemuan yang selalu disuguhkan semesta, hingga aku selalu mampu dibuatnya bertanya-tanya. Jikalau ini semua hanyalah kebetulan, mengapa frekuensi pertemuan kita tampak terlalu berlebihan?
Tentang kebetulan-kebetulan yang seperti disengaja Tuhan, kuharap, ini bukan sebatas perasaanku saja. Salahkah aku, jika mendoakan ada percikan rasa tumbuh lagi di antara aku dan kamu? Salahkah aku, jika terus menginginkan temu tanpa jemu? Salahkah aku, jika hanya denganmu aku merasa seperti itu?

Aku ingin kita bersatu, namun kamu pernah berkata tak mungkin denganku.
Dan juga bukankah kamu pernah berucap bahwa kita tak bisa lebih lagi dari yang seperti ini?
Padahal sayang yang adalah sebuah dasar sudah dimiliki masing-masing hati. Kamu, membuatku semakin tak mengerti lagi tentang semuanya ini. Namun tak pernah sampai berhasil membuatku menyesal, bahwa kepadamu aku pernah jatuh hati.

Karena nyatanya, selama ini segala macam harap masih saja kubawa pergi. Berharap, di suatu hari nanti yang entah kapan, ia dapat bertemu dengan harapmu yang ternyata menyerupai. Ah, bukankah harapku pada akhirnya hanyalah berupa sebatas harap?
Selalu saja begini, kamu seperti tanda dilarang berhenti pada jalur dua hati. Kamu ada di sana, melambaikan tangan dengan senyuman; menawariku rasa nyaman yang hanya angan-angan. Sungguh, aku ingin berhenti sampai di sini. Ingin berpindah ke lain hati. Ingin menemukan bahagiaku sendiri. Sebab, jika pandangan terus tertutup oleh bayangmu, tak pernah sempurna cinta mampu kumiliki.
Kamu tak pernah sepenuh hati, sementara aku tak pernah setengah hati.

Mungkin salah satu dari kita harus ada yang mengalah. Aku yang seharusnya berbalik arah, atau kamu yang menujuku selangkah demi selangkah. Jika semesta benar-benar mendukungku untuk pindah ke lain hati, mengapa sosok yang begitu sering kutemui hanyalah kamu lagi?
Sedangkan di lain sisi, kamu tak pernah mengharap kita untuk bersama dalam meniti hari-hari. Aku seperti berada di antara anggukan kepala yang mulutnya berkata tidak. Aku kebingungan mencari-cari apa yang harus kulakukan setelahnya, karena semua seakan-akan jalan buntu bertuliskan jalan keluar.

Sudah kucoba tahu diri, menghilang dari segala sudut pandanganmu yang gemar mencari-cari. Agar kamu tak perlu memberiku asa lagi, dan aku tak perlu menyembunyikan rasa lagi. Namun, takdir berkata lain. Seakan ia memberiku seribu jalan untuk kembali, sedangkan kamu tetap menutupinya dengan satu kata: ‘tidak’.

Bolehkah aku kembali kepada masa lalu, ketika aku dan kamu belum ingin bersatu?
Aku ingin tetap begitu, agar tak ada luka yang kini mengundang perasaan tak menentu. Juga kita akan tetap menjadi sepasang yang tak saling dibunuh waktu. Sebetulnya percuma jika aku berharap mampu memutar detik waktu, maka biarkan aku berdoa agar perasaanku tak melulu ingin terus menunggu dan menujumu. 

Aku ingin kamu, namun jika ternyata rasamu tak cukup kuat untuk membuat aku dan kamu menjadi kita, aku bisa apa?
Pergilah kamu, tutupi hadirmu dari kunjungan pandang mataku. Biar debur dalam dada ini tenang. Biar isi kepala ini berhenti sibuk mengenang. Biar suatu hari, jika kita dipertemukan lagi, aku

Jumat, 12 Oktober 2018

Titik Akhir


Di satu sisi, ada aku dan ketetapanku. Ingin jadikan kita yang tak hanya cerita biasa, namun cerita sepanjang masa. Di sisi lain, ada kamu, juga dengan ketetapanmu. Membiarkan dirimu ikuti alur, sebuah arus rasa yang tak menentu ke mana hendak menuju.

Mulanya, kita sejalan, kita tahu ke mana langkah kaki mengarah. Beberapa persimpangan dilewati, beberapa keputusan besar diambil; tak jarang mengorbankan ego hati. Dan kini, sampailah kita pada titik ini. Persimpangan yang lain, tanda tanya besar yang lain.

Seperti sudah lelah mengalah, kita tak mampu bersepakat untuk memilih arah. Kita seperti harus memilih jalan tengah; berpisah. Kemudian kita menyatukan beragam pikiran dari berbagai bagian. Menyuarakan apa yang selama ini sudah menjadi pilihan. Ada beberapa hal yang sudah mengalami perubahan, dan kita tak lagi sedang membawa kecocokan yang pernah dibanggakan. Kesamaan-kesamaan yang pernah ada ternyata tak bisa untuk saling beriringan bersama. Ada yang berbeda dari kita, lalu entah siapa yang sudah menyadarinya sejak lama.

Sebenarnya aku ingin, terlepas dari semua mimpi yang tak lagi sama, aku mau melewatinya lagi, menyatukan perca mimpi agar jadi seutuhnya ‘kita’ lagi. Tapi tidak pernah kau ‘iya’kan. Bahkan menyuarakan asa saja tidak kau izinkan.

Sebenarnya kau pikir kau ini siapa? Berani menggenggam, lalu semudah itu melepaskan, hilang entah jadi angin atau udara.

Bukannya kamu yang dulu berkata “jangan lepaskan genggaman”?

Bukannya kamu yang melahirkan angan-angan dan menghidupkan setiap harap yang berterbangan? Tapi mengapa kamu sendiri yang menjatuhkannya jadi kepingan-kepingan kekecewaan yang berserakan?

Keputusan ini nyaris berbentuk keputusasaan. Apakah ‘sendiri’ merupakan takdir yang harus kita nikmati?

Kukira kamu menganggapku cukup berarti, maka kupertahankan ikatan kita setengah mati. Ternyata, sebuah janji untuk melewati segalanya bersama, bagimu hanyalah sekadar kata. Sementara aku terlanjur mengukir angan kita satu per satu, dari ucapanmu kala itu.

Cinta kita baik-baik saja, katamu sembari menggenggam kepalan tanganku. Namun jurang yang kini menghampiri kita, meninggalkan bibirmu bisu seketika. Kemudian masing-masing kita harus meninggalkan impian-impian yang sempat terpahat, dengan langkah yang kurasa semakin berat.
Pada genggaman tanganmu, aku pernah memercayakan masa depanku. Yang kini harus segera kutata kembali supaya sebisa mungkin serupa baru. Ada titik yang semestinya kutinggalkan, sementara aku masih diharuskan untuk menanggung kecewanya sebuah perasaan. Meski tidak sepenuhnya bisa melupakan, seperti kamu yang tidak semudah itu menyamakan kembali tujuan agar sama seperti pada permulaan.

Aku sedikit penasaran, apa masih ada kita yang kau imbuhi harapan?

Jika tidak, ini adalah terakhir kalinya aku menyapamu lewat kata-kata. Bukan, bukan putus asa atau enggan menjejakkan kaki pada penantian, tapi kupikir berjuang sendiri pun tak ada guna. Kamu harus tau satu hal, banyak rencana-rencana yang tanpa sadar telah kuangankan denganmu sebelumnya, tapi itu hancur beberapa waktu lalu. Kalau dengan melepaskanmu adalah pembuktian, silakan, lihat dari kejauhan.

Aku tidak akan memaksa hati untuk berjuang sendiri mempertahankan kita yang tak ingin dipertahankan lagi. Pada akhirnya, kitalah penulis yang menamati baris-baris perjalanan ini dengan pemberhentian. Tiada lagi pena yang berlanjut mengeluarkan tinta cerita. Tiada lagi lembar kosong yang menagih waktu kita untuk mendiskusikan skenario cinta. Tiada lagi mata semesta sebagai pembaca yang akan menyaksikan kisah kita. Karena mengakhiri di sini bukan berarti alarm bagi hati untuk berhenti memproduksi berlaksa rasa pada sesiapa lagi.

Nanti ada masanya dimana kita lelah mencari dan Tuhan mendatangkan objek pengisi hati lagi. Lalu sedialah masing-masing hati untuk bahagia kembali. Mungkin dengan cara ini, kita diberi jeda berlatih diri dan menghentikan letih hati sambil mendewasakan perasaan. Hingga tibalah bahagia yang akan kita jaga saat berperang melawan kecewa. Selamat pergi, kamu. Selamat menyembuhkan hati, aku. Percayalah, bahagia itu ada meski dengan atau tanpa kita.

Mungkin yang kini kita butuhkan adalah jarak, juga waktu. Jarak agar kita tak saling bertemu. Dan waktu agar kita mampu sembuhkan luka terlebih dahulu. Mencari pengganti hanyalah rencana hati. Sebab dalam dada ini, tetap hanya ada kamu terpatri, sulit kuganti. Dan setelah ini, meski aku yakin sulit bagiku untuk benar-benar pergi, namun tak mungkin untuk kembali lagi.

Kamu pernah menjadi tujuan akhir yang ternyata harus diakhiri. Kamu pernah menjadi penghapus luka yang akhirnya mencipta duka. Kuberdoa pada semesta, agar ini hanya jalan dariNya menuju bahagia; bukan hanya sebuah rencana yang tak berakhir dengan semestinya.

Selepas habis tangis ini, Tuhan, mohon ajarkan aku memberi cinta dengan bijaksana.

Baik-baiklah disana, kalau takdir kita tidak berakhir di garis yang sama, pastikan kenangan telah kau abadikan dalam cawan ketidakabadian.