Sejak awal aku memang tidak
percaya cinta pada pandangan pertama, yang aku tau hanya nafsu atau suka pada
pandangan pertama yang disalahartikan menjadi cinta. Tapi entah setelah
mengenal dia aku justru malah percaya kalau aku jatuh cinta pada pandangan pertamaku.
Dia, laki-laki yang membuat aku bisa membuka hatiku kembali setelah sempat
tertutup karena patah hati terhebatku oleh laki-laki yang aku kenal 4 tahun
lalu. Awalnya aku fikir dia yang aku kenal dulu itu berbeda dengan laki-laki
lain, semuanya terlihat berbeda menurutku, dia berhasil membuat aku jatuh cinta
yang sejatuh-jatuhnya tapi sayangnya aku tidak bisa mengontrol hatiku. Setelah
kejadian itu aku mulai menghapus semuanya, semua pemberiannya, membuang foto
yang aku pajang di dinding kamarku, menghapus semua foto yang ku simpan di handphone-ku, membakar semua yang dia
pernah berikan, menghapus semua kontak dan media sosialnya, bahkan aku tidak
ingin adalagi orang yang menyebutkan namanya di depanku apalagi bertemu dan
bertatap muka dengannya. Aku ingin semua tentangnya hilang. Hatiku seakan
diremas, sakit luar biasa entah kenapa. Aku tenggelam dalam drama yang
kuciptakan sendiri. Kalau difilmkan, mungkin ini jadi klimaksnya, aku duduk
sendiri dibawah hujan, menunggu yang tidak datang. Tapi ini bukan film, ini
nyata, tidak ada credit title setelah ini, hidup harus kembali berjalan.
Kutatap senja sebelum akhirnya langit menggelap, menelan semua cahaya seperti
dia menelan kebahagiaanku. Aku berusaha hingga akhirnya aku lelah dan aku rasa
semuanya sia-sia, 4 tahun adalah waktu yang cukup lama jika harus aku lupakan
dengan waktu yang singkat, aku melakukan cara lain yaitu menyibukkan diri. Aku
fikir menulis adalah cara untuk mengisi kekosongan waktuku tapi ternyata tidak,
menulis justru membuat aku mengingat dia karena disaat aku menulis aku justru
teringat dia dan akhirnya aku putuskan untuk tidak menulis lagi, semuanya sudah
aku lakukan dan hasilnya tidak berubah rasa ini tetap saja melekat dihati. Aku
pasrah, aku menyerah.. semuanya memang harus terjadi aku tidak bisa menyalahkan
siapapun apalagi takdir, aku berfikir untuk menjadi dewasa karena ibuku bilang
“sakit hati itu bisa membuat kita untuk
berfikir dewasa” aku mulai membiasakan diri melakukan kegiatan rutinku,
membiasakan diri dengan semuanya dan melawan luka yang belum kering. Semuanya
butuh perjuangan, aku juga berdoa agar semua lukanya lekas kering. Tuhan
mendengar doaku, Tuhan melihat perjuanganku memang benar apa yang dikatakan
dosenku “jangan berharap kepada manusia
karena mereka akan mengecewakanmu. Tetapi berharaplah hanya kepada Allah karena
Dia akan memberikan yang terbaik untukmu.” Fikiranku kembali tenang, aku
membuat semuanya menjadi baru, semua hal yang dulu pernah aku alami aku jadikan
sebuah pelajaran. Aku percaya bumi tidak akan pernah berhenti berputar ketika
kau memilih untuk berhenti melangkah. Jadi, berjalan sajalah, dengan atau tanpa
seseorang disisimu. Hatimu akan sembuh jika kau sendiri yang mau mengobati, dan
untuk mengobati, memang diperlukan waktu. Tapi kau salah, jika kau merasa kau
butuh waktu untuk melupakan. Bangsa yang
besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, ucap Bung Karno. Jika
karena patah hati kau berharap lupa, lalu bagaimana kau mau belajar? Kehidupan
memberi kita pelajaran disetiap langkah yang kita ambil. Dan tidak semua
pelajarannya menyenangkan. Meski pelajarannya menyakitkan, toh kita belajar.
Kita belajar untuk tidak jatuh di lubang yang sama, kita belajar untuk tidak
mengulangi kesalahan yang sama dan kita belajar bagaimana caranya mengikhlaskan.
Setelah patah hati terhebat itu
aku merasakan jatuh hati kembali, seperti pertama kalinya aku merasa jatuh hati
pada lawan jenis. Laki-laki yang aku ceritakan pada bagian awal tulisanku,
laki-laki yang bisa menghapus bersih lukaku dulu. Aku selalu percaya pada
sebuah kebetulan, karena kebetulan adalah takdir yang menyamar. Sayangnya, kita
memang belum terlalu akrab untuk sekedar mengobrol dan bertukar fikiran, kita
hanya bisa tegur dan sapa. Aku termasuk perempuan yang susah jatuh cinta, tapi kali ini laki-laki itu berhasil membuat aku jatuh hati. Jika saja aku bisa menerawang hati seseorang aku
tidak akan dihantui oleh rasa penasaranku. Sebab, jika aku tau itu adalah
sebuah strategi untuk melumpuhkan hati perempuan lebih baik aku tidak
mengenalnya daripada aku harus membuat luka baru. Saat ini dia bisa menutup
bahkan menghapus luka tapi entah kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi
kedepannya, mungkin saja dia patah hati terhebatku selanjutnya. Entah, aku tidak
ingin merasakan hal seperti itu lagi aku hanya ingin mencintai dengan wajar.
Desember, 7th 2016
0 comments:
Posting Komentar