Jumat, 07 Desember 2018

11 tahun yang lalu.


Hari ini, 11 tahun yang lalu, dengan hari, tanggal dan bulan yang sama, gue kehilangan “teman hidup” gue. Kenapa gue bilang teman hidup? Karena dia bisa menjadi siapa aja, selalu ada saat gue butuh. Dia adalah sepupu gue, kami lahir ditahun yang sama, bedanya gue bulan awal dia bulan akhir. Karena dia anak dari uwa—kakaknya bapak, jadi gue manggil dia dengan sebutan aa—karena gue asli sunda, meskipun kalau dihitung dari bulan lahir, gue yang lebih tua.

Nggak kerasa udah 11 tahun dia pergi, masih dengan suasana hati yang sama, jangan tanya sedih atau nggak. Perlu waktu selama 1 tahun gue bisa ikhlasin dia pergi. Sebenarnya nggak baik lama-lama larut dalam kesedihan, tapi berat rasanya lewatin waktu tanpa dia. Dari lahir kami udah sama-sama, apapun selalu berdua. Orangtua kami nggak pernah ada di rumah—karena kerja, tapi nenek selalu setia nemenin kami berdua, karena kami diurus oleh nenek—Ibunya Ibu, lokasi tempat tinggal kami sama—di Komplek BTN Margagiri, sejak lahir sampai duduk di kelas 1 SD, dia pindah rumah yang lumayan jauh dari tempat tinggal sebelumnya, tapi kami nggak pernah libur untuk ketemu. Setiap hari libur dia selalu maksa gue buat nginep di rumahnya, nggak jarang gue nolak karena saat kecil gue nggak bisa kalau jauh dari rumah. Tapi sekeras apapun gue nolak, dia selalu menang, beda lagi kalau gue yang ajak dia nginep di rumah, alasannya 1, nggak ada kipas. Dulu, pas gue kelas 1 SD, kipas listrik ‘tuh jarang banget, makanya hanya beberapa rumah yang pake. (keliatan tua banget ‘kan jadinya-_-). Gue sering banget diejek item sama dia, tapi emang kenyataanya gitu, sih, gue nggak bisa menyangkal karena memang kulit dia putih, tapi gue sama sekali nggak marah, malah gue ketawa pas dia ngejek gitu. Dia punya 2 kakak laki-laki, kami selalu main bertiga—dengan kakak kedua, naik kelas 2 SD lagi musim banget game Nintendo, karena dia adalah anak yang rajin nabung, dia rela habisin uangnya demi beli game itu. Gue yang nggak ngerti cara mainnya, cuman bisa liatin aja. Lama-lama gue paham cara mainnya, akhirnya gue diajak main game yang 2 player, gue selalu jadi pemain cadangan, nggak pernah jadi yang pertama. Gue lupa nama permainannya apa, tapi disitu gue menikmati banget, akhirnya gue jadi sering nginep di rumahnya, karena ada iming-iming game. Nggak lama setelah ada Nintendo, keluarlah PS—Playstation, alat game yang lebih canggih dan macam-macam permainannya juga lebih bagus, lagi-lagi dia harus keluarin tabungannya dan ditambah dari uang orangtuanya untuk beli barang itu. Gue nggak perlu beli buat di rumah, karena minjem aja udah cukup.

Nggak akan pernah ada habisnya kalo ceritain semua tentang dia, lagi-lagi gue lemah kalau harus inget semuanya, selalu ngerasa kalau dia masih ada, dan kalau dia masih ada, dia akan jadi orang pertama yang nampung curhatan gue, yang rangkul gue kalau gue lagi galau, yang ngehibur dengan sikapnya yang lucu yang nggak pernah ilang dari ingatan gue sampai sekarang.

A, makasih selama aa hidup, aa selalu nemenin, selalu inget kalau beli sesuatu harus 2, selalu ngehibur dengan sikap konyol aa yang nggak pernah terlihat sedih. Inget nggak a, sebelum aa pergi, malamnya aa nginep dirumah, tumben, padahal biasanya aku yang sering diajak nginep. Biasanya kita tidur awal, tapi malam itu, sampai jam 11 malam kita masih buka album foto kita pas kecil, dan nggak ada sedikitpun firasat muncul difikiranku saat itu. Dalam foto itu usia kita kurang dari 5 tahun, kita duduk berdua diatas kasur dan dikelilingi boneka kelinci, aku yang nggak pernah bisa senyum kalau foto, beda sama aa yang selalu senyum kalau depan kamera. Sangat disayangkan fotonya hilang sejak aku pindah rumah. Besoknya kita sarapan bareng, dan itu sarapan terakhir kita, nggak nyangka akan secepat dan sesingkat itu, dan siangnya dengar kabar kalau aa kecelakaan, seketika semuanya berhenti, lemas, sesak, sempat nggak percaya, bahkan sampai sekarang. Padahal kita masih punya mimpi yang belum terwujud, banyak banget.

Udah, gue nggak cukup kuat buat ngelanjutin ini semua. Karena sekuat apapun gue tahan, air mata tetep keluar gitu aja. Buat kalian yang baca ini, gue titip doa ya buat dia; Gemara Didabrata bin Cecep Komara. Semoga kebaikan kalian dibalas oleh Allah swt. Aamiin. Al-fatihah…………


Jumat, 09 November 2018

Random.


Hari Jum’at, pukul 07:06 WIB pagi hari. Kalian tau gue lagi ngapain? Gue lagi duduk diatas kasur, masih pakai baju tidur, udah ngemil momogi sebungkus, dan sampahnya masih ada disamping gue. Tenang aja gue udah cuci muka dari air wudu kok, dan sikat gigi juga. Hari ini kuliah libur, nggak ada agenda jalan-jalan, nggak ada buku yang bisa dibaca, nggak ada drama korea yang harus ditonton, karena wifi di rumah belum dibayar, dan nggak ada orang yang harus gue telfon hanya untuk bilang “udah salat subuh tadi?“ iya, nggak ada. Sekarang gue bingung mau ngapain, makanya gue nulis. Dengan suasana yang sejuk karena pagi ini gerimis jadi bikin mager, apalagi ditemani teh hangat dan cookies, dan ekspetasi kalian tentang itu akan buyar ketika kalian tau realitanya nggak kaya gitu. Pagi ini emang hujan, tapi nggak ada teh hangat dan cookies disamping gue.

Oke, cukup, supaya waktu kalian nggak sia-sia karena baca tulisan nggak jelas ini, kita masuk ke pembicaraan yang serius. Tapi nggak serius-serius amat. Jadi gini, akhir-akhir ini gue ngerasa ada yang beda di diri gue sendiri, semacam ada yang berubah tapi tidak ada yang berbeda. Paham nggak? Sama, gue juga nggak paham. Jangankan oranglain buat memahami gue, gue aja kadang nggak ngerti sama diri gue sendiri. Perubahan itu melangkah menuju arah yang lebih baik ‘kan? Tapi kenapa gue malah ngerasa sebaliknya, gue yang dulu banyak omong sekarang lebih senang diem, yang dulu senang kumpul dengan orang banyak sekarang malah lebih senang menyendiri. Ada yang salah pada diri gue? gue nggak tau, gue bener-bener bingung, kalau dibandingkan hidup gue yang dulu dengan yang sekarang rasanya berubah 360 derajat! Ada seseorang pernah bilang, “ketika dewasa, kita akan menemukan diri kita yang sebenarnya,” setelah gue pikir lagi, jadi selama ini jati diri gue kaya gini? Diem dan suka menyendiri? Ah nggak, tuh. Gue masih suka kelayaban main sama teman, sampai kadang males pulang. Gue juga masih suka banyak omong ketika didepan orang. Gue masih sama seperti dulu, kok. Setelah gue nonton di YouTube tentang sifat manusia, dan  ternyata sifat manusia itu ada dua, introvert dan ekstrovert. Dulu, gue sama sekali nggak tau arti dari dua kata itu apa, sampai akhirnya gue coba menyelami keduanya, mulai kepo segala hal tentang kedua sifat ini. Gue nggak bisa nyimpulin gue berada di sifat yang mana, karena setelah gue baca tentang kedua sifat ini, keduanya ada juga di diri gue. Itulah kenapa gue nggak pernah konsisten. Apakah gue punya kepribadian ganda? Ah sepertinya itu mustahil. Gue yang dulunya aktif diberbagai bidang di sekolah, dari mulai SD, semua acara gue ikutin, sering ngomong didepan orang banyak, dan sama sekali nggak ngerasa takut atau malu, masuk ke SMP, gue ikut semua kegiatan ekstrakulikuler di sekolah, bahkan gue sempat jadi wakil ketua osis dan ketua pemimpin putri di pramuka, dan lagi-lagi gue berani kalau disuruh ngomong di depan umum, nggak ada rasa takut sama sekali, malah gue ngerasa energi gue bertambah ketika melakukan hal tersebut. Belum lagi beberapa perlombaan pidato yang sering banget gue ikutin, olimpiade sains pas SMP, debat juga, tapi kenapa sekarang malah jadi “ciut”? yang keluarga gue tau, gue anak yang aktif di sekolah, peringkat nggak pernah lebih dari 3, setelah masuk kuliah semua berubah, seperti ada sesuatu yang masuk ke diri gue dan mengendalikan otak dan pikiran gue. Entah itu apa, yang jelas gue benci ini. Gue nggak mau dicap jadi orang bodoh, tapi gue nggak mau belajar, gue juga nggak mau dicap jadi orang pasif tapi gue nggak mau berbicara. Aneh. Jawaban dari orang lain yang sering bilang ke gue ketika gue curhat masalah ini adalah, “mungkin karena lo nggak pernah mau belajar,” ga pernah belajar? terus tiap malem gue selalu baringan dilantai buat baca buku atau pelajari materi sebelumnya itu namanya apa? Dan beresein tiap resume atau kerjain ppt sendirian apa namanya? Dari kecil gue selalu dipaksa untuk belajar, orangtua selalu nuntut supaya gue selau ranking 1, dan minimal 3 besar, dan semua kemauan itu gue pertahankan sampai SMP. Ketika memasuki masa SMA gue mulai kurang mikirin tentang ranking, yang penting gue paham sama materinya. Bukan nggak ngikutin kemauan orangtua, gue cuman mau ngasih kesempatan supaya oranglain juga bisa merasakan berada diatas, dan dihargai karena nilai lo bagus-bagus, karena di Negara kita, siapapun yang ranking 1 itu tandanya dia pintar, tapi mereka nggak tau proses apa yang dia lakukan sampai dia dapat peringkat 1. Tapi “jeda” gue kelamaan, gue terlalu santai sampai akhirnya tertinggal jauh dari orang-orang yang gue kasih kesempatan itu. Akhirnya gue nggak bisa mempertahankan peringkat 3 besar gue sampai lulus SMA. Meskipun lo udah abis-abisan belajar tapi lo nggak bisa dapat ranking 1 dikelas, itu tandanya lo masih dianggap belum pintar, karena mayoritas manusia menganggap ranking adalah hal yang paling istimewa. Hanya beberapa yang paham maksud dari tulisan ini. Tapi sebenarnya gue sendiri takut setelah gue baca ini orang akan bersikap beda ke gue, atau malah ada yang kontra karena mereka ngerasa gue berbeda dari apa yang gue tulis. Sejauh ini gue masih belum tau jenis sifat gue ini apa. Tapi, gue punya 1 faktor yang jadi kunci utama jawaban ini, dan jawaban itu bersifat pribadi, gue masih belum tau pasti benar apa nggak. Faktor lainnya, mungkin salah satunya adalah faktor lingkungan. Mungkin faktor lingkungan gue dulu yang bikin gue nyaman, akhirnya bikin gue jadi easy going dan confident. Tapi bukan berarti lingkungan gue yang sekarang buruk, nggak gitu. Perbedaan itu gue rasakan ketika gue masuk kuliah. Sekarang diem sedikit aja udah dikira marah, atau nggak mau ikut bareng-bareng aja dikira nggak solid. Dulu, mana ada yang kaya gitu, semua adem adem aja. Gue tipe orang yang mikirin sesuatu itu sampe kebawa mimpi, ada orang yang kesel sama gue, gue pikirin sampe gimana caranya orang itu biar nggak marah. Kesalahpahaman itu bikin gue pusing, bukan otak yang main, hati juga. Gue selalu nyimpulin apapun itu pake hati, makanya jadi sering baper.

Sejauh ini obrolan serius gue, rumit dan nggak nyambung, dan gue sendiri nggak ngerti apa yang baru gue ketik tadi. Cuman ngeluarin unek-unek aja, soalnya nggak ada lawan bicara, cuman ada bantal sama boneka. Yaudah gue mau lanjut tidur dulu, mumpung free day dan cuaca sangat mendukung buat tidur.

Dah, sampai juga di blog gue selanjutnya! :)

Jumat, 26 Oktober 2018

Tahu Diri

Tak banyak yang berubah dari pertemuan kita tempo hari. Kita masih saling bertegur sapa. Kita masih saling mencuri pandang. Kita masih saling mengetahui bahwa ada yang belum selesai di antara kita; perasaanku.

Padahal sudah kucoba menguburnya secermat mungkin, bahkan dari ingatanku sendiri. Namun, kehadiranmu yang selalu tertangkap kamera hati, tak mungkin bisa kupungkiri. Ada yang selalu tertangkap mata, dan di dalam jangkauannya kamu selalu ada. Ada yang selalu terdeteksi indera penciuman, dan segalanya hanya tentang harum tubuhmu yang tak mampu terlupakan.

Entah apa maksud di balik pertemuan yang selalu disuguhkan semesta, hingga aku selalu mampu dibuatnya bertanya-tanya. Jikalau ini semua hanyalah kebetulan, mengapa frekuensi pertemuan kita tampak terlalu berlebihan?
Tentang kebetulan-kebetulan yang seperti disengaja Tuhan, kuharap, ini bukan sebatas perasaanku saja. Salahkah aku, jika mendoakan ada percikan rasa tumbuh lagi di antara aku dan kamu? Salahkah aku, jika terus menginginkan temu tanpa jemu? Salahkah aku, jika hanya denganmu aku merasa seperti itu?

Aku ingin kita bersatu, namun kamu pernah berkata tak mungkin denganku.
Dan juga bukankah kamu pernah berucap bahwa kita tak bisa lebih lagi dari yang seperti ini?
Padahal sayang yang adalah sebuah dasar sudah dimiliki masing-masing hati. Kamu, membuatku semakin tak mengerti lagi tentang semuanya ini. Namun tak pernah sampai berhasil membuatku menyesal, bahwa kepadamu aku pernah jatuh hati.

Karena nyatanya, selama ini segala macam harap masih saja kubawa pergi. Berharap, di suatu hari nanti yang entah kapan, ia dapat bertemu dengan harapmu yang ternyata menyerupai. Ah, bukankah harapku pada akhirnya hanyalah berupa sebatas harap?
Selalu saja begini, kamu seperti tanda dilarang berhenti pada jalur dua hati. Kamu ada di sana, melambaikan tangan dengan senyuman; menawariku rasa nyaman yang hanya angan-angan. Sungguh, aku ingin berhenti sampai di sini. Ingin berpindah ke lain hati. Ingin menemukan bahagiaku sendiri. Sebab, jika pandangan terus tertutup oleh bayangmu, tak pernah sempurna cinta mampu kumiliki.
Kamu tak pernah sepenuh hati, sementara aku tak pernah setengah hati.

Mungkin salah satu dari kita harus ada yang mengalah. Aku yang seharusnya berbalik arah, atau kamu yang menujuku selangkah demi selangkah. Jika semesta benar-benar mendukungku untuk pindah ke lain hati, mengapa sosok yang begitu sering kutemui hanyalah kamu lagi?
Sedangkan di lain sisi, kamu tak pernah mengharap kita untuk bersama dalam meniti hari-hari. Aku seperti berada di antara anggukan kepala yang mulutnya berkata tidak. Aku kebingungan mencari-cari apa yang harus kulakukan setelahnya, karena semua seakan-akan jalan buntu bertuliskan jalan keluar.

Sudah kucoba tahu diri, menghilang dari segala sudut pandanganmu yang gemar mencari-cari. Agar kamu tak perlu memberiku asa lagi, dan aku tak perlu menyembunyikan rasa lagi. Namun, takdir berkata lain. Seakan ia memberiku seribu jalan untuk kembali, sedangkan kamu tetap menutupinya dengan satu kata: ‘tidak’.

Bolehkah aku kembali kepada masa lalu, ketika aku dan kamu belum ingin bersatu?
Aku ingin tetap begitu, agar tak ada luka yang kini mengundang perasaan tak menentu. Juga kita akan tetap menjadi sepasang yang tak saling dibunuh waktu. Sebetulnya percuma jika aku berharap mampu memutar detik waktu, maka biarkan aku berdoa agar perasaanku tak melulu ingin terus menunggu dan menujumu. 

Aku ingin kamu, namun jika ternyata rasamu tak cukup kuat untuk membuat aku dan kamu menjadi kita, aku bisa apa?
Pergilah kamu, tutupi hadirmu dari kunjungan pandang mataku. Biar debur dalam dada ini tenang. Biar isi kepala ini berhenti sibuk mengenang. Biar suatu hari, jika kita dipertemukan lagi, aku

Jumat, 12 Oktober 2018

Titik Akhir


Di satu sisi, ada aku dan ketetapanku. Ingin jadikan kita yang tak hanya cerita biasa, namun cerita sepanjang masa. Di sisi lain, ada kamu, juga dengan ketetapanmu. Membiarkan dirimu ikuti alur, sebuah arus rasa yang tak menentu ke mana hendak menuju.

Mulanya, kita sejalan, kita tahu ke mana langkah kaki mengarah. Beberapa persimpangan dilewati, beberapa keputusan besar diambil; tak jarang mengorbankan ego hati. Dan kini, sampailah kita pada titik ini. Persimpangan yang lain, tanda tanya besar yang lain.

Seperti sudah lelah mengalah, kita tak mampu bersepakat untuk memilih arah. Kita seperti harus memilih jalan tengah; berpisah. Kemudian kita menyatukan beragam pikiran dari berbagai bagian. Menyuarakan apa yang selama ini sudah menjadi pilihan. Ada beberapa hal yang sudah mengalami perubahan, dan kita tak lagi sedang membawa kecocokan yang pernah dibanggakan. Kesamaan-kesamaan yang pernah ada ternyata tak bisa untuk saling beriringan bersama. Ada yang berbeda dari kita, lalu entah siapa yang sudah menyadarinya sejak lama.

Sebenarnya aku ingin, terlepas dari semua mimpi yang tak lagi sama, aku mau melewatinya lagi, menyatukan perca mimpi agar jadi seutuhnya ‘kita’ lagi. Tapi tidak pernah kau ‘iya’kan. Bahkan menyuarakan asa saja tidak kau izinkan.

Sebenarnya kau pikir kau ini siapa? Berani menggenggam, lalu semudah itu melepaskan, hilang entah jadi angin atau udara.

Bukannya kamu yang dulu berkata “jangan lepaskan genggaman”?

Bukannya kamu yang melahirkan angan-angan dan menghidupkan setiap harap yang berterbangan? Tapi mengapa kamu sendiri yang menjatuhkannya jadi kepingan-kepingan kekecewaan yang berserakan?

Keputusan ini nyaris berbentuk keputusasaan. Apakah ‘sendiri’ merupakan takdir yang harus kita nikmati?

Kukira kamu menganggapku cukup berarti, maka kupertahankan ikatan kita setengah mati. Ternyata, sebuah janji untuk melewati segalanya bersama, bagimu hanyalah sekadar kata. Sementara aku terlanjur mengukir angan kita satu per satu, dari ucapanmu kala itu.

Cinta kita baik-baik saja, katamu sembari menggenggam kepalan tanganku. Namun jurang yang kini menghampiri kita, meninggalkan bibirmu bisu seketika. Kemudian masing-masing kita harus meninggalkan impian-impian yang sempat terpahat, dengan langkah yang kurasa semakin berat.
Pada genggaman tanganmu, aku pernah memercayakan masa depanku. Yang kini harus segera kutata kembali supaya sebisa mungkin serupa baru. Ada titik yang semestinya kutinggalkan, sementara aku masih diharuskan untuk menanggung kecewanya sebuah perasaan. Meski tidak sepenuhnya bisa melupakan, seperti kamu yang tidak semudah itu menyamakan kembali tujuan agar sama seperti pada permulaan.

Aku sedikit penasaran, apa masih ada kita yang kau imbuhi harapan?

Jika tidak, ini adalah terakhir kalinya aku menyapamu lewat kata-kata. Bukan, bukan putus asa atau enggan menjejakkan kaki pada penantian, tapi kupikir berjuang sendiri pun tak ada guna. Kamu harus tau satu hal, banyak rencana-rencana yang tanpa sadar telah kuangankan denganmu sebelumnya, tapi itu hancur beberapa waktu lalu. Kalau dengan melepaskanmu adalah pembuktian, silakan, lihat dari kejauhan.

Aku tidak akan memaksa hati untuk berjuang sendiri mempertahankan kita yang tak ingin dipertahankan lagi. Pada akhirnya, kitalah penulis yang menamati baris-baris perjalanan ini dengan pemberhentian. Tiada lagi pena yang berlanjut mengeluarkan tinta cerita. Tiada lagi lembar kosong yang menagih waktu kita untuk mendiskusikan skenario cinta. Tiada lagi mata semesta sebagai pembaca yang akan menyaksikan kisah kita. Karena mengakhiri di sini bukan berarti alarm bagi hati untuk berhenti memproduksi berlaksa rasa pada sesiapa lagi.

Nanti ada masanya dimana kita lelah mencari dan Tuhan mendatangkan objek pengisi hati lagi. Lalu sedialah masing-masing hati untuk bahagia kembali. Mungkin dengan cara ini, kita diberi jeda berlatih diri dan menghentikan letih hati sambil mendewasakan perasaan. Hingga tibalah bahagia yang akan kita jaga saat berperang melawan kecewa. Selamat pergi, kamu. Selamat menyembuhkan hati, aku. Percayalah, bahagia itu ada meski dengan atau tanpa kita.

Mungkin yang kini kita butuhkan adalah jarak, juga waktu. Jarak agar kita tak saling bertemu. Dan waktu agar kita mampu sembuhkan luka terlebih dahulu. Mencari pengganti hanyalah rencana hati. Sebab dalam dada ini, tetap hanya ada kamu terpatri, sulit kuganti. Dan setelah ini, meski aku yakin sulit bagiku untuk benar-benar pergi, namun tak mungkin untuk kembali lagi.

Kamu pernah menjadi tujuan akhir yang ternyata harus diakhiri. Kamu pernah menjadi penghapus luka yang akhirnya mencipta duka. Kuberdoa pada semesta, agar ini hanya jalan dariNya menuju bahagia; bukan hanya sebuah rencana yang tak berakhir dengan semestinya.

Selepas habis tangis ini, Tuhan, mohon ajarkan aku memberi cinta dengan bijaksana.

Baik-baiklah disana, kalau takdir kita tidak berakhir di garis yang sama, pastikan kenangan telah kau abadikan dalam cawan ketidakabadian.

Selasa, 28 Agustus 2018

body-shaming: what is it & why do we do it?



Pernah nggak lo berfikir tentang penampilan? Gue yakin semua orang memprioritaskan penampilan sebagai sesuatu yang menjadikan dirinya lebih menarik, terutama bagi perempuan. Kenapa? Karena untuk bercermin aja mereka butuh waktu lama, tujuannya, ya, untuk membuat dirinya lebih indah dipandang. Sering gue liat kejadian bahkan pernah gue rasain juga ada orang yang bilang “pantes aja makannya banyak, liat aja badannya segede itu,” mungkin tujuannya cuma buat becandaan, tapi lo tau? Kadang apa yang lo becandain itu bikin mereka kesinggung. Bukannya berlebihan, tapi ini soal menghargai manusia.

Di tulisan gue kali ini gue mau bahas body shaming, yang mungkin sebagian dari kalian tau arti dari body shaming itu apa. Ya, body shaming in Indonesia it is mean mempermalukan tubuh atau tindakan mencela fisik seseorang. Body shaming itu sama sekali gak keren. Tidak peduli bercanda atau serius isn’t good absolutely. Komen fisik biar terkesan lebih akrab hmmm mending ke laut aja u. Ada banyak cara untuk bisa akrab tanpa harus komen fisik. Gue baca beberapa artikel tentang masalah ini dan tiba-tiba aja gue jadi pengin beropini tentang masalah ini, karena menurut gue ini menarik untuk dibahas, selain untuk mencurahkan kekesalan gue juga karena menjadi salah satu korban body shaming.

Zaman sekarang banyak banget tutorial make-up ala-ala youtubers, aplikasi untuk diet, dan sebagainya. Gue fikir itu semua bertujuan untuk membantu kita merawat wajah dan tubuh, dan beberapa orang pasti ada yang serius ngikutin tutorial itu, meskipun ada banyak usaha mereka yang tidak membuahkan hasil, dan akhirnya berhenti buat lakuin itu. Tapi bukan berarti mereka nggak peduli sama tubuh mereka. Sebagai contoh, saat lo dan teman-teman SMP atau SMA bikin acara reunian dan otomatis lo ketemu mereka semua tapi tiba-tiba temen-temen lo malah bilang, “Lo gendut banget sih, kayak emak2/om2 tau” “Lo kurus banget sih, ngga dikasih makan ya” “Lo orang apa menara sutet sih tinggi banget nutupin pemandangan aja” “Lo pendek banget kek minion” “Lo pesek gitu gak susah nafas ya” “Lo mancung ih boros oksigen banget….” Dan lain sebagainya. Teruntuk makhluk-makhluk yang pernah ngomong begitu please go to the hell!! Guys… ada sapaan lain yang lebih baik dari itu, apa salahnya kalo bilang, “hey, apa kabar?,” “udah lama nggak ketemu, lo sibuk apa sekarang?” dan sebagainya. Kejadian itu pernah gue alamin. Jujur, gue sendiri ngerasa risih sama ucapan itu, maksudnya becanda tapi kesannya meledek.

Tidakkah kalian tahu bahwa body shaming itu berbahaya? Body shaming yang berlebihan bisa menjadi tindakan bullying. Coba lo bayangin orang yang dikomenin fisiknya, ternyata dia jadi terbeban sama kata-kata itu, dan sedang berusaha untuk merubah fisik yang membuat dia shame.

Misal karena dikatain gendut dia rela mati-matian buat diet cuma minum air putih demi memenuhi standar kurus yang ditetapkan di lingkungannya, akibatnya? Dia dehidrasi, bisa pingsan, bisa sakit lambung juga, terus harus opname di rumah sakit, ternyata nggak ada biaya, adanya cuma uang buat bayar kuliah akhirnya tuh uang dibuat bayar rumah sakit, akhirnya dia gak bisa bayar uang kuliah, dan dia harus berhenti dari kuliahnya hanya karena komenan fisik dari teman-teman lucknut. Hiii ngeri kan?

Tidak peduli bagaimana ini bermanifestasi, sering mengarah pada perbandingan dan rasa malu, dan gagasan bahwa orang harus dinilai terutama karena fitur fisik mereka. Sebenernya kalau kita mau positive thinking makhluk-makhluk yang suka komen fisik atau body shaming kayak tadi mungkin mereka gak sadar sudah melakukan hal itu, mereka hanya spontan mengomentari sesuatu yang sedang mereka lihat. Pernah tau gak orang yang dulunya pernah mengalami body shaming akhirnya dia berusaha mati-matian untuk merubah kekurangan dia dan dia berhasil.

“Berarti body shaming bagus dong, bisa memotivasi seseorang untuk berpenampilan lebih baik”.

Lebih baik menurut siapa dulu? Ya sayangnya standar “lebih baik” manusia itu berbeda-beda. Tapi, bagaimanapun juga body shaming tetaplah sesuatu yang tidak baik, pembenaran apapun tidak akan bisa membenarkannya. Manusia itu diberi akal dibanding makhluk lainnya, ya tujuannya itu tadi biar kalau mau ngomong sesuatu bisa dipikir dulu tanpa melukai orang lain. Manusia juga diciptakan dengan tubuh yang sempurna, lebih sempurna dari makhluk hidup lainnya, kalau dia item dan gemuk bisa aja itu turunan dari orangtuanya, mungkin aja kalian nggak tau mereka pernah nyoba usaha buat terlihat menarik di depan orang lain.

Buat kalian yang pernah menerima komen fisik, pelecehan fisik, dsb. berhenti mengasihani dirimu karena dirimu tidak seperti yang mereka harapkan. Every God’s creature is unique. Kamu unik, kamu ada dan diciptakan dengan tujuan hebat sesuai porsi masing-masing dalam hidupmu, berdamailah dengan fisikmu, syukuri itu dan sayangi tubuhmu minum yakult tiap hari, eh nggak deng nggak sayangi tubuhmu dengan cara merawatnya dan mengabaikan mulut-mulut tidak bertanggung jawab yang komen fisik gak sampai 1 menit tapi dampaknya bikin kamu galau seminggu bahkan berbulan-bulan.


Bye~

Sabtu, 25 Agustus 2018

me to myself


Setelah melewati beberapa fase menjadi dewasa, sekarang gue tau jadi dewasa itu beneran nggak gampang. Lo harus siap dengan kenyataan yang ada, lo dituntut harus bisa menyikapi dan beradaptasi dengan permasalahan yang lo alami. Kalau nggak, lo akan dianggap anak kecil karena gabisa nyikapin itu semua dengan baik. To be honest, gue sendiri belum ngerasa dewasa, pemikirian gue masih kaya anak kecil, ego masih susah buat diatur, gampang marah dan yang lainnya. Gue masih perlu banyak belajar, dalam segi apapun. As we know that dewasa itu nggak harus tentang usia, dewasa itu tentang sikap dan perilaku. Dan sampai saat ini gue sendiri ngerasa belum bisa nyikapin  permasalahan yang ada, gue terlalu fokus sama sesuatu yang jadi penyebab masalah itu muncul tanpa nyari solusinya. Pernah nyoba buat nyikapin masalah itu dengan fikiran terbuka dan dengan sikap yang dewasa tapi sepertinya ego itu muncul dan selalu ingin menang. Belum lagi permasalahan asmara yang nggak pernah ada habisnya. Selalu gagal dalam menjalani hubungan, dan selama ini juga gue udah nemuin banyak macam-macam karakter dari pasangan-pasangan gue sebelumnya. Sometimes gue mikir, apa gue nggak usah nikah aja, ya? Atau nikah nanti aja nunggu orang yang mau sama gue, nanti juga ada, tunggu aja. Tapi kenyataannya semua nggak akan berjalan mulus sesuai ekspetasi. Even ketika jodoh ditangan Tuhan pun, lo sebagai manusia juga harus berikhtiar buat nemuin jodoh lo. Perbaiki kualitas diri, eventhough lo menjalani hubungan itu and you have to feel broken heart. Menurut gue itu adalah cara Tuhan nunjukin karakter pasangan lo, karena kalo nggak gitu lo nggak akan tau mana yang terbaik buat lo. Ya, gue tau nggak ada yang sempurna, bahkan dituntut untuk sempurna pun nggak akan bisa, semua orang punya nilai kurangnya masing-masing, dan balik lagi ke soal pendewasaan. Kalau dulu niat lo pacaran cuma buat main-main dan jadiin pasangan lo temen chattingan doang, sepertinya sekarang harus buang niatan itu. Sekarang lo udah masuk fase yang serius, sekarang harus bisa mikirin nanti gimana? Bukan gimana nanti.

Ngomongin soal kedewasaan, banyak hal yang bisa gue petik dari ini semua. Dan beberapa diantaranya ada yang bisa gue terima tapi nggak sedikit juga yang gue tolak. Mungkin tahap kedewasaan gue belum high level, gue masih harus banyak belajar dan bersabar, apalagi soal asmara. Jangan terlalu percaya sama pasangan, karena manusia paling susah buat pegang omongannya. Jangan terlalu cinta juga, nanti susah buat lupa. Ikutin aja alur yang ada, nikmatin kegalauan yang lo rasain sekarang, dan mencoba  untuk positive thinking. Jangan bikin kegalauan lo ngerusak masa depan lo. Kenapa gue harus se-percaya diri itu? Because I believe that everything will be fine in time.

Senin, 01 Januari 2018

cerita jadi fangirl

Hallo semua, udah lama ya, iya udah lama ngejomblo, nggak deng, becanda.

Sebenernya nggak bakal ada yang tertarik juga sih, mau gue ngepost atau nggak, tapi gimana da pengin.

Langsung aja, jadi gini, banyak yang nanya ke gue, kenapa suka banget sama Korea? Nah pertanyaan itu sering muncul ketika gue posting di medsos beberapa hal tentang Korea, mau itu k-pop atau k-drama.

Gue suka hal-hal tentang Korea dari pas kelas 3 SMP. Waktu itu gue punya temen yang fanatik banget sama SHINee, gue yakin, fangirl akut pasti tau boygroup yang satu itu, meskipun mereka bukan penggemarnya. Nah, awalnya gue cuma tau dari temen gue itu, gimana gue ga risih, yang dia obrolin tentang Korea semua. Dulu gue juga punya idola, tapi gue masih mencintai produk lokal, nah mau tau siapa? Ah gue yakin kalian ngakak kalo tau idol gue dulu siapa. Nggak ya? Yaudah gue kasih tau, gue tuh dulu suka sama SMASH, tuh, ngakak nggak? Jadi, pertama gue mengidolakam boyband (yang katanya alay) pas kelas 3 SMP, barengan sama temen gue yang suka juga sama SHINee, karena idol kita beda Negara jadi kalo cerita kadang ya beda juga. Gue mikir, apa bagusnya artis Korea, kalau nyanyi aja gue ga ngerti mereka nyanyi apa, akhirnya ya kita masing-masing aja sama dunia yang kita sukai. Oh iya, dulu di SMASH, gue suka sama Bisma (sampe sekarang), alasan suka? Ga ada, karena cinta tidak butuh alasan, bukan begitu? Hahaha entahlah. Kalo ngomongin alasan kenapa suka, mungkin kalian atau sebagian orang paham, jadi ga perlu gue kasih tau alasan kenapa gue suka, karena semua orang masing-masing punya type yang mereka sukai. (RIBET AMAT ANJIR BAHASANYA) ya gitulah pokoknya. (EH INI KAPAN NGOMONGIN KOREA? KOK JADI BAHAS SMASH?) oh iyaa, gapapa ya, biar ga kaku kaya kanebo. (OKE, SKIP)
Sebut aja temen gue yang suka SHINee itu Okta (nama samaran), dia sering nyebarin virus k-pop-nya ke gue, gue sering dijejelin video dance-nya mereka (SHINee), lama-lama gue jadi hafal muka-mukanya member SHINee itu, meskipun pas awalan gue liat muka mereka tuh sama aja. Lagu-lagu SHINee sering gue denger dari Okta, dikelas pas jam istirahat kita sering ngobrolin tentang Korea, apapun itu. Akhirnya gue jadi ikut-ikutan kena virus k-pop, dan jadi tau boy/girlgroup di Korea. Meskipun saat itu hati gue udah pindah ke Korea, tapi gue masih cinta sama SMASH, bahkan gue pernah jadi admin disalahsatu fansite Facebook, dan ngasih info-info seputar SMASH, (ANJIR GA ADA KERJAAN BANGET, DIBAYAR AJA KAGAK). Justru gue seneng bisa berbagi ke sesama temen yang suka sama SMASH, saking cintanya gue sama SMASH, gue tau kepribadian dan segala hal tentang membernya. Gue banyak belajar dari kehidupan mereka, beberapa hal yang baik selalu gue ikutin, karena mereka ‘kan manusia ya, punya sisi buruknya juga. Setelah dipenghujung tahun ajaran pas SMP karena mau UN, gue jadi kurang fokus sama SMASH, Okta juga. Kita jadi sering ngobrolin tentang masalah kelulusan, UN, ngelanjutin sekolah kemana, dan yang lainnya.

Setelah lulus, gue balik lagi ke Pandeglang, (karena pas kelas 3 SMP gue pindah ke Garut), gue jadi ga begitu kepo tentang SMASH, gue malah nyari tau tentang K-pop, sedikit-sedikit gue search digoogle tentang boygroup Korea yang lagi ngehits, dan diantaranya ada yang nyebutin EXO. Awalnya gue B ajasih, masih dengan penglihatan yang sama, gue ga bisa bedain muka-muka orang Korea. Gue cuma denger beberapa lagunya aja, gue mulai terbiasa sama bahasa Korea, gue translate tuh bahasanya, karena gue takut arti dari liriknya ga baik. Pertama tau EXO, gue taunya SEHUN, karena diantara yang lain dia paling ganteng dan ngerasa beda, ada aura bule-bulenya gitu. Gue sering nonton reality show-nya mereka, gue juga nyari tau nama-nama membernya, awalnya ribet, karena semuanya berjumlah 12. Yaaaa, karena sering liat gue jadi hafal lama-lama. Beberapa tahun gue mulai ga peduli tentang dunia k-pop, akhirnya pindah ke k-drama pas kelas 2 SMA, gue suka drama-drama dari Korea, alur, aktris dan aktornya luar biasa kerennnnnn. (ALAYYYYYYY) 1 drama bisa punya 16-20 episode. Dan selama gue sekolah, hidup gue selalu penuh dengan drama, (HALAHHHHHHH).

Setelah lulus SMA, gue masih pecinta k-drama, laptop yang awalnya cuma diisi tugas SMA, jadi penuh sama drama-drama Korea. Kadang barter, kadang download, ya gimana enaknya aja, yang penting gue ga ketinggalan drama baru yang diposting di channel tv Korea.

Nah setelah lulus SMA, gue ga ngelanjutin kuliah, saat yang lain sibuk daftar PTN gue masih nyantai, gue mutusin untuk ngelanjutin kuliah ditahun selanjutnya. Nah, lama-lama gue bete juga karena jadi pengangguran, akhirnya gue mutusin buat kerja di salah satu restaurant di Tangerang, setelah minta izin (yang lumayan lama) karena gue harus ngebujuk ibu biar gue bisa dikasih izin buat kerja, akhirnya setuju, dan tau apa? Restaurant yang gue jadiin tempat kerja yaitu Resraurant Bornga. Gatau ya? Ituloh restaurant Korea. Hahaha. Korea lagi, korea lagi. Pokoknya pas pertama kerja, gue hampir putus asa, daftar menunya susah banget, gila, ribet, bahasa Korea semua. Gue ‘kan cuma tau di k-drama dan itu juga pake subtitle indo, dan saat itu gue dipaksa harus hafal daftar menunya, gue juga dituntut harus hafal beberapa bahasa Korea, karena mayoritas pelanggan pasti orang luar negeri (terutama Korea). Gue hampir mau nyerah, tapi ada temen gue (yang kerja disitu) bilang; gue pertama kerja disini juga sama kaya lo, susah banget ngafalin daftar menunya, tapi lama-lama juga hafal kok. Akhirnya gue usaha tiap ada waktu senggang buat ngafalun daftar menu dan bahasa Korea. Saat dapet pelanggan pertama masuk ke restaurant, kita harus ngasih salam dalam bahasa Korea, saat yang lain udah hatam gue cuma bisa lipsync. Dan akhirnya lama kelamaan gue jadi hatam sama bahasa-bahasa yang asing itu. Pas gue masih kerja, manager-nya itu asli orang Korea, dia ramah, dia bisa bahasa Indo tapi ga begitu lancar. Kalo balik kerja, dia sering ngajak gue sama yang lainnya ngobrol di depan restaurant, sambil nongkrong karena restaurant-nya dipinggir jalan. Ini hal yang menarik menurut gue, akhirnya gue bisa ketemu langsung orang Korea asli (meskipun bukan artis) dan nanya banyak tentang Korea, nama manager gue itu Mr. Jang (dibaca; cang) itu cuma marganya aja, nama asinya gue gatau. Gue sampe inget idol Korea pertama gue pas kelas 3 SMP, gue nanya ke dia, dia tahu. Tapi pas gue tanya siapa idol dia, dia nyebutin artis dari negeri dia sendiri, dia bilang; saya lebih suka artis dari Korea, kalau dari luar negeri saya tau, tapi tidak suka. Gue positive thinking aja, mungkin mereka emang diajarin buat mencintai produk sendiri. Rutinitas selama gue kerja selalu kaya gitu, balik kerja nongkrong, besoknya kerja lagi, kalo libur ya paling molor. Beberapa bulan gue kerja disitu, akhirnya waktu gue udah habis, gue udah harus fokus kuliah, gue resign dari tempat kerja itu, dan berat, sih, awalnya. Gue dilema antara berhenti atau lanjut, tapi gue udah janji sama ibu bakal lanjutin kuliah setelah setahun libur. Padahal kerja juga asik, kok. Gue sedikit-sedikit ‘kan, jadi tau tentang Korea.

Setelah pulang ke rumah, gue cerita banyak ke ibu selama gue kerja disana. Gue bilang gue jadi suka Korea (padahal udah lama), terus ibu juga selalu bilang semoga bisa pergi kesana, minimal main, kalo nggak, bisa dapet beasiswa kuliah disana (ANJIR, PENGEN BANGETLAH INIMAH), gue mah nge-amin-in aja, karena do’a orangtua ‘kan yang paling ampuh, apalagi ibu.

Saat masuk kuliah, gue jadi suka lagi sama k-pop. Karena dikelas ada satu orang fangirl, dan menyebarkan virus k-pop-nya, akhirnya gue jadi mulai tertarik lagi sama dunia itu. pas EXO comeback dan tampil yang berbeda, gue jadi jatuh cinta lagi sama mereka. Tapi gue sedih, dulu pas pertama membernya ada 12, sekarang malah ada 9, dan itupun 1 orang lagi nyangkut di China, karena ada problem antar Negara. Sisa member ini yang sering bikin gue semangat, moodbooster bangetlah. Kalau pas pertama gue tau EXO dan member yang gue suka itu SEHUN, sekarang hati gue berpaling ke KAI, (BUKAN SINGKATAN KERETA API INDONESIA WOIIIII), nama aslinya JONG-IN, itu nama panggungnya. Ah, gue suka sama semuanya kok, gue tau ga baik ngelebih-lebihkan sesuatu apalagi suka yang berlebihan. Gue juga tau, idola umat muslim tuh cuma Nabi Muhammad SAW, ga ada yang lain. Tapi kalau kalian liat mereka disisi yang berbeda, mereka punya sisi kebaikan yang oranglain ga tau, sama kaya dulu gue ngefans sama SMASH, gue selalu ambil sisi kebaikan dari idol gue. Kerja keras, itu yang bikin gue salut, mereka capek tapi mereka tetep berusaha buat bikin penggemarnya seneng. Mungkin karena gue suka Korea, gue jadi mengidolakan mereka, beda lagi kalo gue suka Negara yang lain, gue bisa aja suka Justin Bieber. Nah, yang bikin gue risih, selalu ada omongan “kenapa sih, suka banget sama Korea apalagi EXO?” gitu aja terus pertanyaannya, kalo gue balikin nanya “lo kenapa malah suka sama itu (hal yang mereka suka)” terus mereka jawab, “ya, suka aja, mereka kan keren,” hellowwww, apa yang lo suka belum tentu oranglain juga suka, gue sih pengin kita masing-masing aja, asik sama dunia sendiri lebih baik daripada ngusik dunia oranglain. Kalian boleh benci dunia gue, atau ngerasa keusik sama apapun yang gue posting tentang hal yang gue suka, kalian cukup hapus atau block gue dari pertemanan dimedsos. Palingan, nggak lama setelah ngusik gue, lo malah suka sama idol gue, terus nikung, terus kepo sama idol gue, terus jatuh cinta, terus malah ngusik oranglain lagi yang cuma suka sama idol ecek-ecek. Padahal yang dia idolakan sekarang, dulunya pernah dia benci. Karena gue juga pernah ngerasain hal yang sama, tapi ga sampe ngusik sebegitunya. Masih gue liatin kok, mereka-mereka yang ‘katanya’ ga suka Korea, awas aja nikung idol gue dan tiba-tiba diem-diem pasang wallpaper idol gue di HP-nya.

Satu lagi, gue ngerasa berubah setelah gue nge-fangirl-in EXO, gue jadi ngerasa ga sepi, jadi punya banyak temen sesama fangirl, bukan di Indonesia aja, bahkan diseluruh dunia. Ga percaya? Palingan kalau gue suruh download aplikasi Amino EXO pada ga mau, yaudah, padahal buktinya ada disitu.

Udah ya. Sumpah, ini ga penting banget, kalian baca ini sampe akhir, yaaaa, walaupun ada beberapa yang cuma baca judulnya doang terus buka dan baca akhir kalimatnya aja, gapapa, gue seneng, seenggaknya ada yang sedikit kepo tentang gue. Hahahaha. Oh iya, fyi yaaaaa, gue sampe sekarang masih suka sama SMASH kok, cuma kalau sekarang mereka kan bubar, jadi gue cuma ngepoin per-member aja, apalagi Bisma<3 udah sih itu doang informasinya.

Bye. Love you. Sorry kalau ada typo.