Minggu, 18 Juni 2017

Separuh Jalan Menuju Hatimu

Terkadang ketika terlalu mencinta, seringkali kita terlupa bahwa tidak semua hati patut diperjuangkan. Sebab, ada hati yang tak mungkin diluluhkan, sekalipun kita sudah berjuang mati-matian. Seperti aku kepada hatimu, misalnya.
Menujumu, aku sudah separuh jalan. Namun separuh hatimu saja seakan tak mungkin aku dapatkan.
Terkadang aku terlalu berusaha untuk menciptakan getaran-getaran itu tampak nyata. Seperti rasa yang tak pernah habis kehilangan asa. Aku menyadari bahwa kamu sama sekali tidak mengerti akan tanda-tanda. Lalu haruskah kita yang sudah aku rangkai dan belum sempat dimulai, menemui kata selesai?
Kusebut kamu debar tanpa usai. Sebab meski cinta ini tak pernah diberi balasan, tetap pada hatimu aku selalu menginginkan. Kusebut kamu satu-satunya penantian. Sebab untukmu aku selalu menjaga hati, tanpa pernah tahu bagaimana membuat harap ini mati.
Aku mengejarmu, kamu mengejar yang bukan aku. Kita seperti berlari dalam lingkaran berliku yang ujungnya tak akan pernah berbalik menujuku.
Adakah kiranya setitik aku dalam lubuk hatimu yang terdalam? Sama seperti keinginanku akan kamu yang tak pernah bisa diam. Sempatkah aku untuk bertamu walau tak lebih lama dari waktu-waktu yang telah berlalu? Sebab sama seperti kamu yang selalu berkunjung tanpa memedulikan logika dan hati yang sedang beradu. Karena di atas segala yang sudah ada, hanya kamu yang kudamba.
Pernah kucoba menyerah, namun hati sudah tak bisa mengubah arah. Entah apa yang akan terlintas di benakmu jika tahu bahwa aku telah menginginkanmu sedalam itu. Aku pernah melupakan harga diri hanya demi mendapatkanmu di sisi. Aku merasa tak keberatan tersakiti hanya untuk menjadi milikmu yang sejati.
Aku layaknya seorang bodoh yang bahagia. Ah, biar saja.
Dan kamu di sana, aku tidak tahu sedang memikirkan apa. Entah di bagian mana aku di sepanjang garis pedulimu. Mungkin aku hanyalah semu, yang tak pernah terlintas barang seujung kuku. Ada suara-suara yang tidak dengan hati ingin kaudengar, ada senyuman-senyuman yang di matamu tidak begitu bersinar. Pada langkah-langkahku yang bahkan sudah goyah, kamu pernah menjadi penunjuk arah. Kini, aku hanyalah entah.
Tentang tujuan hati yang selalu ada namamu tertulis, hanya kamu sumber kenangan manis. Tentang gores luka sisa perasaan yang tersia-sia, hanya kamu satu-satunya penghilang dan pembawa bahagia. Ini bukan cinta buta. Ini hanya cinta yang terlalu menginginkan sebuah ‘kita’.
Akankah semua asa menjadi nyata? Ataukah akan tetap percuma segala tumpukan doa?
Padamu aku masih saja menggantungkan harap yang entah kapan akan terjawab. Padamu aku masih saja mendamba segala sesuatu yang indah tentang kita. Pada sebuah arah putar balik, aku memaksakannya lalu justru berhenti di satu titik. Memupuk asa dan keyakinan bahwa menunggumu adalah pilihan yang terbaik. Entah akan sampai kapan, mungkin hingga pada nantinya kamu menyadari segala perasaan-perasaan dan berkeinginan untuk membuka pintu hati secara perlahan—yang entah kapan.

Senin, 29 Mei 2017

Mengapa Kamu?

Ada jatuh yang tak pernah kuduga-duga, hingga sebuah tanya muncul dalam benak; mengapa kamu? Mengapa pada seseorang yang dapat kuketahui dengan pasti, bahwa akhirnya adalah tidak mungkin? Ada rasa yang datang tanpa diundang, hingga tanpa sadar kuletakkan namamu pada urutan paling pertama dalam segala hal. Ada cinta yang sampai kini masih kusangkal. Sebab, memberi hati kepadamu tak pernah sebelumnya terpikirkan.

Barangkali, begitulah risiko jatuh cinta. Betapapun sudah berhati-hati, selalu saja ada jalannya jika memang harus terjadi. Sementara hati sebetulnya sudah lelah terjatuh sendirian, tapi Tuhan mendatangkan kamu di hadapan. Kali ini entah sebagai jawaban, entah sebagai penambah pertanyaan, entah sebagai pemberi pelajaran.

Jadi, mau dibawa ke mana hatiku yang ada dalam genggammu itu?
Haruskah aku menujumu, perjuangkan kamu lebih jauh? Atau kembali saja pada titik mula—cukup jadi pendamba?

Andai kamu mengerti, ini bukan tanpa alasan. Sebab yang kulihat hanya dia, pada tatap matamu yang paling dalam. Sebab yang kudengar hanya namanya, pada tiap nada kebahagiaan. Sementara aku, tinggal di antara ribuan pertanyaan; tentang mengapa kita kemudian dipertemukan. Sementara aku, berdiam di tengah ratusan perkiraan; tentang mengapa kepadamu, jatuhku tampak diizinkan. Jauh, sebelum cinta tampak nyata, sudah kusadari bahwa semuanya akan berakhir dengan sia-sia.

Kamu seperti ada untuk kucintai saja, bukan untuk kumiliki. Seperti dekat yang tak terjangkau, terasa tapi tak tergenggam, ada yang seperti tiada.



Minggu, 28 Mei 2017

Ingin Diinginkan

Hari-hari ini, beberapa daripadaku telah tampak tak kasat mata di kepunyaanmu. Di saat aku ingin menjadi satu-satunya titik yang kaupandang lekat-lekat, kenyataan menjawabnya dengan pahit yang teramat pekat. Sebab, yang ada padaku memang tidak untuk menjadi sesuatu yang menarik perhatianmu. Teriakan yang tak terdengar, atau kamu memang enggan menoleh lalu sadar. Keberadaan yang tak terlihat, atau kamu memang enggan untuk kita menjadi terlalu dekat.
Rasanya aku tak begitu berbeda dengan yang lainnya, namun mengapa tak kamu berikan aku tatapan yang sama? Harus sejauh mana aku menyentuh hatimu, agar setidaknya kamu tak buru-buru berlalu dari sisiku? Kukira mencintai lewat mimpi tak akan pernah senyata ini, kecuali padamu.
Lalu, ketika kini aku terlanjur cinta, rasa ini harus dibawa ke mana? Sementara ke hatimu saja tak kutemukan jalannya.
Kamu terlalu jauh untuk kurengkuh atau kedekatan memang tak pernah kau inginkan? Sebab berulang kali aku menunjukkan diri, namun tak sekali pun kamu menyadari bahwa aku selalu ada. Bagaimana bila rasa ini bukanlah untuk sementara? Bagaimana bila aku tak sanggup lagi untuk menunggu lebih lama? Barangkali terlalu sulit bagimu untuk menaruh peduli, sedangkan terlalu mudahnya aku untuk memberi hati.
Meski kamu memilih jalan yang tak pernah melewati pintu hatiku, ingatlah bahwa itu tak berarti aku tak menunggumu di balik pintu. Bisa jadi, di suatu waktu yang entah, kamu tersesat kemudian berteduh di berandaku. Bisa jadi, di suatu saat yang kelak, kamu menemui nyaman di hangat pelukku. Tetapi, bisa juga tidak.
Meski yang mereka lihat ialah bahwa aku selalu menerima, ingatlah, tak berarti aku tidak berusaha. Barangkali di suatu waktu yang entah, kamu akan mendengar. Barangkali di suatu titik yang entah, aku akan terlihat. Atau barangkali sebelum semuanya itu terjadi, rasa yang ada justru telanjur pergi.
Semoga di suatu hari yang entah, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk diinginkan. Semoga di suatu hari yang entah, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk terlihat. Semoga pada saat itu, segala sesuatunya belumlah terlambat.

Minggu, 14 Mei 2017

Jatuh Cinta Sendirian

Diam-diam memperhatikan, diam-diam suka, diam-diam jatuh cinta, diam-diam sakit hati. Semuanya aku rasakan sendiri, tanpa orang tahu, aku menutup semua itu sendirian. Bukan karena tidak ada yang bisa aku ajak untuk bercerita, hanya saja aku merasa tidak pantas menceritakan hal ini terlalu sering. Dulu memang aku selalu terbuka jika masalah hati, tapi sekarang aku fikir sebaiknya cukup aku yang tahu tentang hatiku. Karena tidak semua orang bisa menanggapinya dengan baik. Menurutku, cara yang paling efektif untuk mencurahkan hati, ya, dengan menulis. Menulis membuatku lega, karena aku bisa mencurahkan semuanya dalam bentuk tulisan.

Ini tentang seseorang yang berhasil membuatku jatuh cinta. Entah mulai sejak kapan, yang jelas sampai sekarang aku masih merasakan itu. Sebenarnya, aku termasuk orang yang sulit jatuh cinta. Aku pernah mencintai seseorang, tapi perasaan itu tidak muncul begitu saja, ada proses pendekatannya, lebih tepatnya dicintai lalu aku bisa mencintai. Kali ini berbeda, tidak ada angin tidak ada hujan, tidak ada sinta tidak ada jojo, tiba-tiba jatuh cinta. Saat itu tidak ada yang tahu, aku menutup perasaan itu sejak awal. Beberapa waktu sempat membuat aku deg-degan, karena sikap dia membuatku berfikir apakah dia juga menaruh rasa yang sama sepertiku? Tentu saja tidak, tapi mungkin saja, iya. Sesuatu yang disebut harapan itu selalu muncul ketika wajahnya terbayang, sulit rasanya untuk tidak berharap. Lantas, aku harus bagaimana? Membiarkan diri ini jatuh cinta sendirian? Terlalu banyak harapan akan membuat kita semakin sakit, apalagi jika harapan itu tidak berujung bahagia. Untuk sementara ini, aku ingin jadi pengecut saja, mencintai tanpa harus menunjukkannya. Tapi jika yang aku cintai kenyataannya sedang berusaha mendekati wanita lain, aku merasa harus berganti peran menjadi orang yang tidak mengenalinya lagi.


Semoga kau melihat ini, meski 99% kemungkinannya tidak, tapi aku punya 1% kemungkinan lagi, kalau kau akan melihat tulisanku.

Kamis, 04 Mei 2017

Melihatmu dari Kejauhan

Aku benci mengingat bagaimana caramu tersenyum. Aku benci menyadari bahwa senyum itulah yang selalu berhasil membuatku jatuh cinta dan terpana. Aku benci mengingat setiap lekuk wajahmu, bagaimana wajah tampanmu, itu telah menjadi pemandangan favoritku. Aku benci menerima kenyataan bahwa aku tidak lagi punya kesempatan untuk memandangimu.

Tentu ada yang berbeda di sini. Kamu tidak tahu hari-hari penuh ketakutan yang aku lewati tanpa membaca pesan darimu. Kamu tidak mengerti hari-hari yang kurasa semakin sepi karena tidak lagi mendengar suaramu di ujung telepon. Kamu tidak paham betapa aku merindukan caramu memelukku, caramu merangkulku, caramu menenangkan bahwa dunia tidak akan meledak, dan aku percaya begitu saja pada kata-katamu seakan kamu telah membaca semua pertanda dalam hidupku.

Aku percaya kamu akan membahagiakanku, dengan segala macam ketulusan, yang di mataku, pada awalnya adalah cinta. Aku percaya, semua rasa mengalah yang aku berikan, semua air mata yang terjatuh saat aku memelukmu dengan perasaan rindu itu, akan segera berganti menjadi kedamaian seutuhnya. Aku tidak tahu, mengapa aku percaya begitu saja, dalam dirimu, kulihat sosok yang sama dengan diriku, hanya saja kamu laki-laki dan aku perempuan. Aku jatuh cinta padamu karena aku merasa sedang mencintai diriku sendiri. Aku percaya padamu dan telah menjadikanmu separuh dari diriku, setelah kamu pergi, ternyata benar; memang pada akhirnya aku kehilangan setengah dari diriku. Aku kini menjalani hari, sebagai aku yang tidak utuh.

Sehari setelah kamu pergi, masih kurasa ketidakyakinanku untuk jauh darimu. Hal itu pun masih terjadi, ketika seminggu kamu tidak lagi menghubungiku, ketika semua tentangmu telah kuhapus dari memori ponselku. Seringkali, terbesit dari pikiranku untuk memintamu kembali, tetapi aku pada akhirnya sadar diri, aku tidak bisa selalu berada di antara dua hati. Aku akan jadi pendosa paling bodoh jika menginginkan kamu mengakhiri hubunganmu dengan kekasihmu. Aku tidak sekuat itu dan aku tidak ingin sejahat itu.

Kamu ingat? Pukul sebelas malam kamu menelponku tiba-tiba, saat itu aku sudah tidur, dering telpon kedua baru aku bisa mengangkat telponmu, dalam percakapan telpon itu kamu mengatakan agar aku tidak kaget perihal pacarmu yang mengirim pesan padaku karena dia fikir aku yang merebutmu. Kamu juga memintaku menghentikan semua dan kita berjalan dengan alur serta peraturan yang kamu buat sendiri. Kamu mengatakan itu tanpa berfikir bagaimana perasaanku. Tidak, aku tidak marah, aku juga tidak mengatakan apa-apa, kemudian kamu menutup telponnya.

Kamu tahu, malam itu, aku mendengar ucapanmu dengan perasaan hancur. Hari itu, aku menyadari bahwa sebenarnya kamu tidak membutuhkanku lebih dari sekadar teman yang mengisi kekosonganmu. Malam itu, ketika kamu memintaku tidak lagi menulis tentangmu, aku menyadari bahwa cerita kita tidak akan tamat dengan akhir bahagia. Dan, kujawab walaupun dalam hati mengapa aku hanya berani menuangkan kesedihanku dalam semua tulisanku, karena itu satu cara agar aku bisa mengabadikanmu.

Karena bagimu, untuk mendapatkan perempuan sepertiku, bisa kamu lakukan dengan jentikan jari. Karena bagimu, untuk mendapatkan teman senang-senang, yang bisa kau peluk dan kau rangkul, bukanlah hal yang sulit dilakukan. Sayangnya, aku terlalu bodoh menyadari di awal. Aku tidak bisa sejahat untuk menganggapmu hanya sekadar teman senang-senang. Aku tidak bisa untuk tidak melibatkan perasaan dalam hubungan kita. Apalagi di dukung oleh caramu yang serius menatapku, caramu berkata cinta padaku, caramu memelukku dengan pelukan tidak ingin kehilangan.

Aku tidak bisa menjadi jahat ketika aku jatuh cinta padamu, meskipun dari awal aku sudah berfikir bahwa kamu akan menyakiti. Rasa takut untuk terus menjadi jahat telah membayang-bayangiku. Aku bahkan ingin sepenuhnya memilikimu  lagi, aku bahkan tidak ingin pelukmu kau berikan untuk wanita lain, aku bahkan ingin meraup habis seluruh waktumu agar aku bisa menjadi duniamu. Aku menyerah menjadi orang jahat, karena berjalan dalam ketakutan akan kehilanganmu setiap saat bukanlah hari-hari yang menyenangkan untuk dijalani.

Aku memilih mengakhiri, melepaskanmu pergi, dan hidup dengan rasa sakit hatiku sendiri. Malam hari, ketika kamu pergi, kamu berkata bahwa tidak hanya aku yang terluka, tetapi kamupun merasakan luka yang sama. Aku yakin, itu hanyalah kalimat penghiburan semata, karena kamupun juga kaget ketika tahu ternyata aku punya kekuatan sebesar itu untuk kamu tinggalkan. Kamu tentu begitu percaya diri bahwa aku akan sesabar itu menghadapi sikapmu. Tapi, wahai Sayangku-yang-aku-cintai-karena-kelemahanmu-itu, aku ingin memberitahu padamu, rasa memiliki dirimu kian hari kian besar, rasa ingin menghancurkan hubunganmu dan kekasihmu semakin tergambar jelas di otakku, iblis dalam diriku kian menguat dan bertumbuh. Kita mengawali semua dengan buruk, dan inilah saatnya aku mengakhiri semua dengan baik.

Melepaskanmu pergi adalah keputusan yang kupilih. Kamu berkata tidak hanya aku yang terluka, tapi kamupun juga terluka. Namun, nyatanya, perkataanmu tidak terbukti sama sekali. Kamu tetap bahagia dengan kekasihmu dan bisa menganggap aku tidak pernah ada dalam hidupmu. Tapi, aku berjalan sendirian, meninggalkan kamu yang di belakang, dan kembali menata hatiku yang telah kau hancurkan. Jadi, aku tidak perlu berpanjang lebar, siapa yang sebenarnya paling sakit di sini.

Aku tidak ingin menjadi jahat lagi. Karena aku cukup bahagia menjadi aku yang sekarang. Aku sudah cukup bahagia, melihatmu tetap bahagia bersama kekasihmu, dan tidak lagi membutuhkan pelukku. Aku sudah cukup bahagia hanya dengan menatapmu dari jauh. Aku sudah cukup bahagia merawat luka dengan tanganku sendiri.

Aku percaya, Tuhan akan menyembuhkanku. Aku percaya, waktu akan memperbaiki semua. Kamu tentu penasaran mengapa dulu aku bersedia menemani kamu lagi walau hanya sekedar telpon saat kamu pulang kerja. Alasan terkuat yang membuatku ingin menjadi kekasihmu adalah karena aku ingin mengenalkan betapa Tuhan menyediakan keajaiban lebih dari apa yang bisa kamu miliki hari ini.

Alasan terkuat untuk bersamamu adalah aku ingin mengajakmu pulang, tapi aku tidak bisa memaksa orang yang sudah terlalu jauh pergi untuk kembali ke ke rumah yang harusnya dia tempati. Jika bagimu kekasihmu adalah jalan pulang yang tepat, silakan lakukan dan jalani sebisamu, sebelum pada akhirnya kamu menyadari-- aku adalah jalan pulang yang harusnya sejak dulu kamu ikuti.

Nikmati rumahmu hari ini, sebelum pada akhirnya kamu menyesal dan menyadari, bahwa hanya aku rumahmu untuk kembali.

Dari perempuan,
yang pernah mencintaimu.


Sabtu, 29 April 2017

...bagian pertama

Ada saatnya lo bakal rindu sama semua kejadian yang pernah lo alami, terutama kejadian yang sempat terpotret. Semua hal itu nggak akan bisa keulang lagi, apalagi buat kumpul dan main bareng, buat ketemu aja susah. Nah, jadi gue mau ceritain beberapa.


#SATU

Ada moment dimana gue ngerasa disayang, punya sahabat kaya mereka Amalia (Amel), Raisa (Ica), Ziyah. Inget nggak, kita sering pergi dadakan pas pulang sekolah naik motor cuma nonton ke bioskop dan nyari makan sebentar udah gitu pulang lagi? Modal nekad yang penting bahagia. Inget nggak, tiap pulang sekolah kita suka nentuin rumah siapa yang bakal kita tempatin kalo pulang dari sekolah? Inget nggak, makanan andalan kita itu nasi padang kalau pulang sekolah? Inget nggak, waktu renang di rumah budenya Amel dan naik banana boat di pantai depan rumah Amel? Inget nggak, pas pertama ulangtahunnya Ica? Bulan September kita rencanain buat bikin kue ultah dibantu budenya Amel, beresnya malem dan karena waktu itu nggak diizinin buat nginep Amel dan Ziyah nganterin gue sampe rumah. Mereka the power of girl gue. Besoknya kita kasih kejutan itu di sekolah, saat semua orang udah pulang kita nyari kelas kosong, disitu kita kasih kejutan buat Ica. Duh Ca, aku inget banget gimana ekspresi muka kamu pas kita ngasih kejutan buat kamu. Bulan selanjutnya, Ziyah ulangtahun, bulan November. Inget nggak, kalau nggak salah waktu itu Ziyah pulang sendiri, dan kita bertiga pulang kerumah Ziyah terus langsung masuk ke kamarnya, dan untungnya Ziyah belum sampe rumah. Kita kunci pintu kamarnya, kita berantakin semua isi di kamarnya, niatnya buat bikin Ziyah kesel. Kita juga udah siapin kue ultah yang kita beli dibelakang sekolah. Waktu itu kita masih pake seragam, akhirnya kita putusin buat pake baju Ziyah, terus kita matiin lampu dan kita siap buat ngasih kejutan buat Ziyah. Pas dia masuk, dia kaget kamarnya kaya kapal pecah, semua isi dalem lemari berantakan dimana-mana, pokoknya bisa kalian banyangin sendiri. Ziyah tiup lilin dan kita langsung selfie dengan backround kamar Ziyah yang berantakan. Bulan Desember, masuk bulan kelahiran Amel. Waktu itu sekolah lagi bebas, cuma ada classmeeting dan agak susah buat cari cara ngasih kejutan buat Amel, kue udah disiapin tapi tempat belum nemu. Akhirnya kita nyari ruangan kosong, ketemu, deh, Lab. Biologi. Nah dari situ kita mulai aksi buat ngasih kejutan Amel. Tapi waktu itu Ziyah nggak ada, gue lupa dia kemana, akhirnya gue sama Ica rencanain berdua. Pas Amel masuk ke Lab. Biologi dia nampangin ekspresi nyengir karena kita ngasih kejutannya agak garing wkwkwk. Cuma berdua, sih. Ya, itu moment kita banget, itu salah satu yang paling nggak bisa lupa. Selebihnya, terlalu banyak kalau gue jelasin satu persatu. Dan, saat bulan itu tiba; Februari, mereka yang ngasih kejutan itu buat gue. Ok, gue paling tua diantara mereka, walaupun tahun lahir kita sama tapi jarak bulan kelahiran gue ke bulan kelahiran mereka itu jauh, Februari-September-November-Desember. Dan saat mereka merayakan ulangtahun sweet 17nya, gue udah menginjak usia 18 tahun. Wkwkwkwk. Waktu itu sekolah bebas, karena belajar udah nggak seefektif dulu, maklum kelas 3 SMA, udah mau UN. Anak kelas juga nyoba buat diemin gue, tapi mereka bilang nggak bisa, nggak tau kenapa. Pas mau balik gue diguyur air bekas pel lantai sama anak-anak cowok dikelas gue, tapi mereka bertiga nggak ada, yaudah abis itu gue pinjem jaket salah satu temen gue namanya Refki, gue juga dianter pulang sama dia, karena arah rumah kita sama. Sampai rumah gue langsung mandi karena siraman anak-anak tadi. Beres itu gue masuk kamar dan ganti baju, pas lagi ganti baju tiba-tiba ada yang buka kamar tanpa ngetuk pintu dan saat itu gue bener-bener lupa ngunci pintu kamar, ternyata mereka bawa kue plus lilin angka 18, surprise banget asli. Terus gue nyuruh mereka buat nunggu gue ganti baju. Beres deh, kita selfie bareng-bareng lagi.

Waktu itu masa-masa sekolah udah hampir ujung tanduk dan lagi rame-ramenya buat daftar PTN, waktu kita buat main bareng jadi nggak segampang pas zamannya masih aktif sekolah. Pas kelulusan kita kumpul lagi dan foto bareng, foto itu masih ada sampai sekarang, setelah pelulusan dan masuk ke acara perpisahan sekolah, kita masih kumpul. Nah dari situ kita mulai susah buat ketemu, tapi tetep kita selalu usaha buat ngatur waktu supaya kita bisa ketemu. Dan sampai sekarang kita masih tetep temenan, kan. Yaa, udah beda waktu aja, sekarang kalian sibuk, aku juga. Waktu pulang kita beda, ada giliran aku yang pulang kaliannya yang nggak, giliran aku yang nggak kalian ada di rumah. Semoga kalau nggak ada halangan, tahun ini, bulan puasa dan kalau emang masih nggak sempet pas lebaran kita harus kumpul. Titik.

Jumat, 21 April 2017

Setelah Kepergianmu..

Tak ada lagi kamu yang memenuhi kotak inbox di handphone-ku. Tak ada lagi sapamu sebelum tidur yang membuncah riuh di telingaku. Tak ada lagi genggaman tanganmu yang menguatkan setiap langkahku. Tak ada lagi suara dering telepon saat jam 08.00 malam. Tak ada lagi yang sepertimu. Tanpamu... semua berbeda dan tak lagi sama.

Aku membuka mata dan berharap hari-hariku berjalan seperti biasanya, walau tanpamu, walau tak ada kamu yang memenuhi hari-hariku. Seringkali aku terbiasa melirik ke layar handphone, namun tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu yang memasok energiku. Pagi yang berbeda. Ada sesuatu yang hilang.

Lalu, aku menjalani semua aktivitasku, seperti biasa, kamu tentu tahu itu. Dulu, kamu memang selalu mengerti kegiatan dan rutinitasku. Namun, sekarang tak ada lagi kamu yang berperan aktif dalam siang dan malamku. Tak ada lagi pesan singkat yang mengingatkan untuk menjaga pola makan ataupun menjaga kesehatan. Bukan masalah besar memang, aku mandiri dan sangat tahu hal-hal yang harusnya aku lakukan. Tapi... kamu tentu tahu, tak mudah mengikhlaskan perpisahan.

Rasa ini begitu absurd dan sulit untuk dideskripsikan. Kamu membawa jiwaku melayang ke negeri antah-berantah, dan mengasingkan aku ke dunia yang bahkan tak kuketahui. Aku bercermin, memerhatikan setiap lekuk wajahku dan tubuhku. Aku tak mengenal sosok di dalam cermin itu. Tak ada aku dalam cermin yang kuperhatikan sejak tadi. Aku berbeda dan tidak lagi mengenal siapa diriku. Seseorang yang kukenal di dalam tubuhku kini menghilang secara magis setelah kepergian kamu. Kamu merampas habis cinta yang kupunya, melarikannya ke suatu tempat yang sulit kujangkau. Entah di mana aku bisa menemukan diriku yang telah hilang itu. Entah bagaimana caranya mengembalikan sosok yang kukenal itu ke dalam tubuhku. Aku kebingungan dan kehilangan arah.

Ingin rasanya aku melempari segala macam benda agar bisa memecahkan cermin itu. Agar aku tak bisa lagi melihat diriku yang tak lagi kukenal. Agar aku tak perlu menyadari perubahan yang begitu besar terjadi setelah kehilangan kamu. Aku bisa berhenti memercayai cinta jika terlalu sering tenggelam dalam rasa frustasi seperti ini. Aku mungkin akan berhenti memercayai lawan jenis dan segala janji-janji tololnya. Siksaanmu terlalu besar untukku, aku terlalu lemah untuk merasakan semua rasa sakit yang telah kausebabkan.

Bagaimana mungkin aku bisa menemukan seseorang yang lebih sempurna jika aku pernah memiliki yang paling sempurna?

Aku benci pada perpisahan. Entah mengapa dalam peristiwa itu harus ada yang terluka, sementara yang lainnya bisa saja bahagia ataupun tertawa. Kamu tertawa dan aku terluka. Kita seperti saling menyakiti, tanpa tahu apa yang patut dibenci. Kita seperti saling memendam dendam, tanpa tahu apa yang harus dipermasalahkan.

Aku menangis sejadi-jadinya, sedalam-dalamnya, atas dasar cinta. Kamu tertawa sekeras-kerasnya, sekencang-kencangnya, atas dasar... entah harus kusebut apa. Aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu yang terlampau rumit itu. Aku merasa sangat kehilangan, sementara kamu dalam hitungan jam telah menemukan yang baru. Bagaimana mungkin aku harus menyebut semua adalah wujud kesetiaan? Begitu sulitnya aku melupakanmu, dan begitu mudahnya kamu melupakanku. Inikah caramu menyakiti seseorang yang tak pantas kau lukai?

Jam berganti hari, dan semua berputar... tetap berotasi. Aku jalani hidupku, tentu saja tanpa kamu. Kamu lanjutkan hidupmu, tentu saja dengan dia. Aku tak menyangka, begitu mudahnya kamu menemukan pengganti. Begitu gampangnya kamu melupakan semua yang telah terjadi. Aku hanya ingin tahu isi otakmu saja, apa kamu tak pernah memikirkan mendung yang semakin menghitam di hatiku? Atau... mungkin saja tak punya hati?

Tak banyak hal yang bisa kulakukan, selain mengikhlaskan. Tak ada hal yang mampu kuperjuangkan, selain membiarkanmu pergi dan tak berharap kamu menorehkan luka lagi. Aku hanya berusaha menikmati luka, hingga aku terbiasa dan akan menganggapnya tak ada. Kepergianmu yang tak beralasan, kehilangan yang begitu menyakitkan, telah menjadi candu yang kunikmati sakitnya.

Aku mulai suka air mata yang seringkali jatuh untukmu. Aku mulai menikmati saat-saat napasku sesak ketika mengingatmu. Aku mulai jatuh cinta pada rasa sakit yang kau ciptakan selama ini.

Terima kasih.

Dengan luka seperti ini. Dengan rasa sakit sedalam ini. Aku jadi sering menulis. Lebih banyak dari biasanya.

Aku semakin percaya, bahwa Kahlil Gibran butuh rasa sakit agar ia bisa menulis banyak hal.

Sama seperti aku, butuh rasa sakit agar bisa lancar menulis... terutama yang bercerita tentangmu.


Dariku, (yang dulu) Kekasihmu.

Minggu, 19 Februari 2017

my day.

Tidak terasa, hari ini, aku bertemu ditanggal 18 yang kesekian kalinya. Aku tidak ingin dirayakan seperti halnya kebanyakan orang, aku hanya ingin dido’akan agar aku bisa menjadi lebih baik. Beribu kata terimakasih untuk Ibuku yang tidak pernah berhenti menasihati, berdo’a, melindungiku hingga detik ini, Bapak yang menjaga juga mendo’akanku walau terhalang jarak, mereka salah satu alasan aku untuk tetap hidup. Juga tidak pernah terlewatkan, pada sang Maha Kuasa yang telah memberikanku izin untuk tetap memperbaiki diri.

Yaa Rabb, izinkan aku untuk merubah hidupku menjadi wanita yang lebih baik yang dikagumi dan dicintai oleh-Mu. Hari ini, usiaku berkurang, masih tersisa beberapa tahun lagi untuk memperbaiki diri. Bahkan aku tidak tahu, Engkau akan memberikan izin berapa waktu lagi padaku, dan saat itu aku merasa tidak mempunyai apa-apa untuk aku sembahkan jika lebih dulu menghadap-Mu.

Yaa Rabb, aku membutuhkan pertolongan-Mu, bantu aku untuk bangkit saat aku merasa terjatuh, bantu aku untuk berjalan tegar saat masalah menghadang. Meski tidak pernah aku minta namun Engkau selalu membantuku dan tanpa aku sadari Engkau justru selalu ada bersamaku.

Yaa Rabb, maafkan aku, terlalu banyak kesalahan yang aku perbuat. Aku tidak malu jika pakaian yang aku pakai tidak sebagus mereka, aku tidak malu jika gadget yang aku pakai tidak secanggih mereka, juga aku tidak malu jika makanan yang aku makan tidak seenak mereka. Aku hanya malu pada orang-orang yang selalu taat pada-Mu, aku malu pada orang-orang yang selalu bersyukur meski mereka hidup berkecukupan, aku malu pada orang-orang yang selalu terlihat kuat dan sabar meski banyak cobaan yang menampar mereka.

Ya Rabb, jadikanlah aku termasuk kedalam golongan orang-orang yang Engkau cintai. Tegur aku jika aku salah, tegur aku jika aku melakukan hal yang membuat Engkau kesal. Aku takut aku hanya punya beberapa waktu, tapi, amalku belum terlalu banyak untuk menutupi kesalahanku.
Yaa Rabb, izinkan hari ini aku meminta beberapa hal. Aku ingin selalu diberikan kesehatan, aku ingin selalu merasa bahagia dengan apa yang aku rasakan, aku ingin selalu diberikan rasa syukur dengan apa yang aku dapat, aku ingin melihat kedua orangtuaku menangis bangga karena melihatku berhasil, aku ingin melihat semua orang yang membenciku juga mendo’akan tentang kebaikanku. Aku rakus, terlalu banyak harapan dan do’a yang aku minta. Sedangkan aku masih sering melalaikan tugas-Mu. Astagfirullah..

Dan, untuk semua yang telah mendo’akan untuk kebaikanku, do’a yang sama juga untuk kalian. Untuk kamu, kalian, dan semua orang. Terimakasih banyak. Semoga aku selalu menjadi teman dan sahabat kalian sampai akhir hayat nanti.

ps: ngepostnya telat, hehe harusnya kemarin, tanggal 18 Februari.

Senin, 23 Januari 2017

Salam untuk 'Matahari'

Matahari pagi memang datang dan pergi, tapi aku selalu tahu itu adalah matahari yang sama. Tak pernah berganti, selalu yang satu satunya. Matahari yang selalu bergerak mempesona dia dia dan dia dibelahan dunia lain. Hingga dia bosan dan yang ditinggalkan menjadi buram bersama malam. Seperti kau yang selalu sama, datang dan pergi. Tapi cinta itumasih saja tentang kau. Iya kau yang senang berpaling untuk mempesona dia dia dan dia. Lalu meninggalkanku dalam nestapa kesepian sedingin malam. Ntah kebodohan atau takdir, tapi lagi lagi saatkau kembali, aku menyambut bahagia sehangat pagi, terharu bertetes embun. Lagi lagi percaya dan berharap cahayamu memberi nyata pada mimpi kita. Meski lagi lagi kau tinggalkan aku bersama angin malam, kosong menusuk tulang. Kau. Iya kau.

Sumber cahaya sudut hati bernama kekasih. Kau matahari itu yang membuatku merasa punya semangat untuk hidup dan bekarya, yang memberiku alasan untuk tetap jatuh cinta, yang membuatku merasa berdaya, untuk menjadi lebih dewasa. Kau membuat rasa dihatiku berfotosintesis sehingga rasaku terus tumbuh dan berkembang, beranak pinak,semakin banyak. Kau membuatku bersyukur bahwa hidup ini tak selamanya segelap malam, masih ada cahaya, selalu ada cahaya, karena kau selalu datang.

Tapi kisahku tak selalu pagi, kisahku tak selamanya siang, akan berganti petang. Ya petang, waktu salam perpisahan pada matahari. Alarm pengingat bahwa matahariku mulai berpaling ke sisi dunia lain. Berbagi cinta, memberi pengharapan untuk merasa hangat pada yang lain. Saat kau menebar hangat pada yang lain, tahukah kau matahari, aku kedinginan bersama nestapa malam.

Mana mungkin kau tahu, kau sedang asyik bercengkrama, menyapa hangat dia dia dan dia disana. Sementara aku tenggelam dalam kelam gelap malam. Dan kau, sesekali mengintipku dalam pantulan cahaya bulan. Sekenanya. Ketika kau lelah dengan dia dia dan dia disana, kau kembali, kembali lagi padaku, memberikan senyuman yang sama hangatnya, tapi terik yang tak kalah panasnya, dan tak lupa petang untuk perpisahan lebih tragis. Apa yang salah. Aku? Kau? atau Semesta? Hentikan ! jangan naif terus terusan menyalahkan lain lain. Tidak ada yang bersalah, yang ada hanya kurang tepat. Mungkin waktu yang tidak tepat untuk kita, ya waktu memang biang keladinya, dia yang membuat kita harus berkeliling berpisah. Ada ada saja teka teki yang harus kita terka untuk meniti kisah yang mulai melelahkan ini. Sudah ku katakan jangan menyalahkan. Atau mungkin, memang aku yang tak serasi untuk matahari. Ya.. bisa jadi. Harusnya aku sadar lebih awal.

Apa yang sebenarnya aku butuhkan. Aku si tangguh yang punya sumber cahaya sendiri. Aku bisa bersinar tanpa sumber cahaya, aku hanya butuh sisetia yang sabar menghadapi sikapku yang berubah ubah, aku yang mudah bosan, aku yang selalu ingin dinomor satukan, dipeluk dengan perhatian, dicintai, bukan dikasihani untuk mengharap energi. Atau sebenarnya aku, yang bergerak mengitari watu. Tak setia menanti kamu. Matahari tak pernah beranjak. Matahari tak pernah bergerak. Hanya aku yang berlari takut hilang. Yang menanti takut malam. Yang naif sendiri, padahal mencintai bukan tentang merasa sakit sendiri. Tapi tentang bertahan menikmati siang malam. Hingga nanti kisahku dan matahari diperintah Tuhan untuk diakhiri. Maafkan.. aku hanya rindu matahari. Sampaikan salamku pada matahari, bahwaku takkan kembali.

Januari, 22; 00.28

Minggu, 08 Januari 2017

Untukmu, FIERSA BESARI

Aku ingin bercerita tentang kekagumanku pada seorang seniman asal Bandung yang menginspirasi jutaan manusia bahkan diseluruh Indonesia atas hasil karyanya. Berambut gondrong, badan kurus, seorang pribadi sederhana, apa adanya, rendah hati, kaya ilmu pengetahuan dan wawasan. Murah hati, murah senyuman, ramah tamah dan menurutku itu sempurna. “Bung” adalah panggilan akrab untuknya. Dia adalah –Fiersa Besari–

Dear Bung Fiersa…
Semua tentangmu aku menyukainya bahkan aku jatuh hati. Seperti apa katamu yang selalu mengucap “Mengagumkan”. Ya, kau memang selalu mengagumkan. Apalagi saat melihat kau tersenyum lebar dan gingsulmu terlihat, you look so handsome, Bung. Y
Aku tahu, banyak sekali mereka yang jatuh hati juga padamu, banyak sekali. But I don’t care, I fell in love all of you, Bung. Aku mungkin hanya pengagummu dengan urutan kesekian juta tapi aku bahagia. Mungkin saja ada seseorang yang tidak menyukaimu dan dia membenci semua karya-karyamu, tapi tenang saja aku dan beberapa bahkan semua yang jadi penggemarmu akan selalu berada digaris terdepan untuk ada dengamu dan memihak padamu. Dulu aku memang tahu nama Fiersa Besari tapi hanya sepintas. Sampai waktu itu aku merasakan hal yang sama sepertimu, merasakan sakitnya patah hati, aku terus mencari cara agar aku tidak terus larut dalam kesedihan akhirnya aku menemukan tulisanmu diinternet, tulisan yang sama percis dengan yang aku alami, dan mungkin saja masih ada oranglain yang jalan ceritanya sama sepertimu dan salah satunya aku, aku mencari tahu tentangmu, mencari akun jejaring sosialmu seperti twitter, instagram dan facebook. Aku mulai jatuh cinta saat aku mendengarkan lagu Bung Fiersa yang berjudul “Waktu yang salah ft. Thantri”, itu lagu pertama yang aku dengar dan aku putar berulang-ulang, sampai waktu itu aku terus mencari tahu sosok Bung Fiersa ternyata kau adalah seorang musisi, karena yang aku tahu Fiersa Besari adalah seorang penulis dengan kalimat puitisnya tapi ternyata Bung juga seorang musisi hebat, aku makin jatuh cinta padamu, Bung.

Belum lagi saat membaca beberapa tulisan yang kau ditulis diblogspot milikmu, cerita kita hampir sama, kau pernah merasakan sakit ketika orangtua bercerai dan sakit ketika diselingkuhi pasangan yang sudah lama menjalin hubungan, aku mengerti apa yang kau rasakan Bung, aku merasakan itu semua. Sakit namun tak berdarah. Tapi karena berkat Bung Fiersa aku tahu caranya tegar meski hati sudah tak lagi utuh seperti dulu. Kau inspirasiku, Bung. Kau pria luar biasa. Maaf aku terlalu berlebihan untuk menjadikanmu sebagai idolaku, bukankah jatuh cinta memang harus seperti ini? Jika aku salah, mungkin ini caraku mengekspresikan kekagumanku padamu, Bung.

Kau tahu, seorang Fiersa Besari itu semacam penyemangat untukku, kau selalu memberikan motivasi lewat semua tulisan dan lagu-lagumu. Wajib sekali untukku setiap harinya mendengarkan suaramu yang aku sukai tiga album sekaligus, album 11:11, Tempat Aku Pulang dan Konspirasi Alam Semesta bahkan lagu cover-an mu aku putar sebelum aku tidur. Banyak sekali lagu yang aku suka dari ketiga album tersebut, seperti garis terdepan, melangkah tanpamu, temaram, nadir, juara kedua, garis waktu, april, hidupkan baik-baik saja dan celengan rindu. Sebenarnya semua lagu karyamu aku menyukainya, dan itu adalah beberapa karyamu yang aku sukai.

Tetap mengagumkan dan tetap menjadi inspirasi jutaan manusia lainnya, ya, Bung.


07 Januari 2017

Salam sayang, Pengagum mu.

Minggu, 01 Januari 2017

Catatan Akhir Tahun 2016

Banyak hal baru aku dapat di tahun ini. Semuanya lengkap, Tuhan emang ga pernah ngasih kenikmatan itu setengah-setengah, Dia selalu ngasih kenikmatan itu dengan porsi yang penuh. Bersyukur adalah tugas utamaku sebagai hamba-Nya. Rasa syukur yang pertama adalah, awal tahun aku diberikan sakit dan terpaksa aku harus dirawat di RS karena penyakit lambungku yang mulai parah. Sebelumnya selama berminggu-minggu aku merasakan sakit yang amat luar biasa, aku sampai tidak bisa berdiri tegak dan berjalanpun rasanya sakit dibagian perut. Seringkali aku menyusahkan ibu, ibu membantuku berjalan ibu juga sering memasak sayur untuk aku makan dan menurutku itu cukup melelahkan baginya, belum lagi ibu harus bangun tengah malam jika aku berteriak karena merasakan sakit dibagian perutku. Ibu sungguh luar biasa hebat. Aku bersyukur diberikan ibu yang begitu perhatian. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan lahir batinnya. Aamiin. Rasa syukur yang kedua adalah tahun ini aku mendaftar ke perguruan tinggi negeri, karena memang tahun lalu pendidikanku tidak aku lanjutkan karena ada alasan tersendiri. Akhirnya tahun ini aku berniat untuk melanjutkan pendidikanku, aku mendaftar ke sebuah kampus di daerah Serang. Aku mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa baru, awalnya aku fikir ini akan terlihat sulit dan kemungkinan kecil akan lulus, tapi Tuhan berkehendak lain semua hal yang sebelumnya membuat aku down kini terbayarkan, aku bisa lulus melalui jalur UM-PTKIN dan bisa mengalahkan ribuan peserta lainnya, aku mengucapan rasa syukur karena Tuhan melihat usaha dan do’aku. Aku hampir tak menyangka karena dari awal banyak sekali rintangan saat aku mendaftar waktu itu. Ternyata semuanya terbayarkan, dan untuk mendapatkan itu semua tidak jauh dari usaha dan do’a tiap selesai beribadah, aku bisa masuk perguruan tinggi negeri dan masuk ke jurusan yang aku sukai, yaitu Pendidikan Bahasa Inggris. Ahh rasanya lega setidaknya kini sejalan dengan apa yang aku cita-citakan sejak aku kecil. Aku ingin menjadi seorang guru. Dibalik ini semua juga ada peran seorang ibu, ibu juga membantuku melewati proses dan tahap-tahap pendaftaran, memang terdengar manja karena anak seusiaku masih diantar ibu saat mendaftar kuliah, aku memang melarang ibu agar tetap diam dan cukup mendoaakanku saja, tetapi beliau sendiri yang memintaku. Sebenarnya jika aku ceritakan lebih jauh tentang ibu, itu akan menjadi episode yang terpanjang dan mungkin bisa mengalahkan sinetron Tukang Bubur Naik Haji, sebab banyak hal yang aku lakukan dengan ibu, walaupun aku kadang sering acuh dan ingin sekali menghapus sifat burukku yang satu itu. Singkatnya mungkin itu rasa syukur aku di tahun ini yang tidak akan aku lupakan di tahun kedepan.

Tahun ini menjadi tahun patah hati terhebatku juga, di blog sebelumnya aku pernah menceritakan laki-laki itu. Aku fikir itu akan memakan waktu lama, aku akan tetap hidup dengan perasaan sakit hatiku saat itu tapi ternyata tidak, jauh dari yang aku fikirkan bahkan terbayang untuk lepaspun rasanya sulit, tapi Tuhan dengan mudah membalikkan perasaanku, aku yakin semua sudah diatur oleh-Nya. Tidak berapa lama perasaan baru muncul, entah aku sampai tidak bisa meliburkan hatiku untuk mencintai laki-laki, padahal aku termasuk perempuan yang susah jatuh cinta. Dia, yaa dia yang bisa membuat aku kembali jatuh cinta, jika pada blog sebelumnya aku tidak menceritakan dia mungkin sekarang atau nanti.. ahh aku bingung aku harus memulainya darimana, dia masih belum jelas, aku yang terlalu berlebihan aku tak bisa mengontrol hatiku. Aku juga masih belum yakin ini jatuh cinta atau sekedar suka biasa, tapi jika dihitung waktu ini sudah cukup lama. Semoga saja tahun depan aku menemukan jawabannya, semoga bukan hanya itu, aku berharap di tahun 2017 nanti aku dijauhkan dari seseorang yang datang lalu pergi, dijauhkan dari seseorang yang hanya memberi harapan tanpa kepastian, dijauhkan dari seseorang yang hanya mendekatiku saat mereka butuh dan dijauhkan seseorang yang berpura-pura baik padahal sebenarnya buruk. Tuhan tidak akan pernah tidur, tidak akan pernah! Aku selalu percaya semua yang Tuhan sudah berikan ini yang terbaik untukku, dan nanti ada hal lain yang akan aku dapatkan entah itu bahagia, kecewa, sedih, atau duka. Entah, kita tidak akan pernah tau. Semoga Tuhan selalu memberikanku kesehatan agar aku bisa selalu mengerjakan tugas-Nya dengan maksimal.

Terimakasih untuk tahun ini, untuk keluarga yang selalu support aku dengan do’a-do’anya, untuk sahabat yang selalu ada saat aku diposisi terendah sekalipun dan untuk yang pernah datang tanpa diundang lalu pergi tanpa pamit terimakasih banyak, tahun ini akan menjadi sebuah pelajaran berharga untuk tahun yang akan datang.
Selamat Tahun Baru 2017!! J



31st of December