Matahari pagi memang datang dan pergi, tapi aku selalu tahu itu adalah matahari yang sama. Tak pernah berganti, selalu yang satu satunya. Matahari yang selalu bergerak mempesona dia dia dan dia dibelahan dunia lain. Hingga dia bosan dan yang ditinggalkan menjadi buram bersama malam. Seperti kau yang selalu sama, datang dan pergi. Tapi cinta itumasih saja tentang kau. Iya kau yang senang berpaling untuk mempesona dia dia dan dia. Lalu meninggalkanku dalam nestapa kesepian sedingin malam. Ntah kebodohan atau takdir, tapi lagi lagi saatkau kembali, aku menyambut bahagia sehangat pagi, terharu bertetes embun. Lagi lagi percaya dan berharap cahayamu memberi nyata pada mimpi kita. Meski lagi lagi kau tinggalkan aku bersama angin malam, kosong menusuk tulang. Kau. Iya kau.
Sumber cahaya sudut hati bernama kekasih. Kau matahari itu yang membuatku merasa punya semangat untuk hidup dan bekarya, yang memberiku alasan untuk tetap jatuh cinta, yang membuatku merasa berdaya, untuk menjadi lebih dewasa. Kau membuat rasa dihatiku berfotosintesis sehingga rasaku terus tumbuh dan berkembang, beranak pinak,semakin banyak. Kau membuatku bersyukur bahwa hidup ini tak selamanya segelap malam, masih ada cahaya, selalu ada cahaya, karena kau selalu datang.
Tapi kisahku tak selalu pagi, kisahku tak selamanya siang, akan berganti petang. Ya petang, waktu salam perpisahan pada matahari. Alarm pengingat bahwa matahariku mulai berpaling ke sisi dunia lain. Berbagi cinta, memberi pengharapan untuk merasa hangat pada yang lain. Saat kau menebar hangat pada yang lain, tahukah kau matahari, aku kedinginan bersama nestapa malam.
Mana mungkin kau tahu, kau sedang asyik bercengkrama, menyapa hangat dia dia dan dia disana. Sementara aku tenggelam dalam kelam gelap malam. Dan kau, sesekali mengintipku dalam pantulan cahaya bulan. Sekenanya. Ketika kau lelah dengan dia dia dan dia disana, kau kembali, kembali lagi padaku, memberikan senyuman yang sama hangatnya, tapi terik yang tak kalah panasnya, dan tak lupa petang untuk perpisahan lebih tragis. Apa yang salah. Aku? Kau? atau Semesta? Hentikan ! jangan naif terus terusan menyalahkan lain lain. Tidak ada yang bersalah, yang ada hanya kurang tepat. Mungkin waktu yang tidak tepat untuk kita, ya waktu memang biang keladinya, dia yang membuat kita harus berkeliling berpisah. Ada ada saja teka teki yang harus kita terka untuk meniti kisah yang mulai melelahkan ini. Sudah ku katakan jangan menyalahkan. Atau mungkin, memang aku yang tak serasi untuk matahari. Ya.. bisa jadi. Harusnya aku sadar lebih awal.
Apa yang sebenarnya aku butuhkan. Aku si tangguh yang punya sumber cahaya sendiri. Aku bisa bersinar tanpa sumber cahaya, aku hanya butuh sisetia yang sabar menghadapi sikapku yang berubah ubah, aku yang mudah bosan, aku yang selalu ingin dinomor satukan, dipeluk dengan perhatian, dicintai, bukan dikasihani untuk mengharap energi. Atau sebenarnya aku, yang bergerak mengitari watu. Tak setia menanti kamu. Matahari tak pernah beranjak. Matahari tak pernah bergerak. Hanya aku yang berlari takut hilang. Yang menanti takut malam. Yang naif sendiri, padahal mencintai bukan tentang merasa sakit sendiri. Tapi tentang bertahan menikmati siang malam. Hingga nanti kisahku dan matahari diperintah Tuhan untuk diakhiri. Maafkan.. aku hanya rindu matahari. Sampaikan salamku pada matahari, bahwaku takkan kembali.
Januari, 22; 00.28
Sumber cahaya sudut hati bernama kekasih. Kau matahari itu yang membuatku merasa punya semangat untuk hidup dan bekarya, yang memberiku alasan untuk tetap jatuh cinta, yang membuatku merasa berdaya, untuk menjadi lebih dewasa. Kau membuat rasa dihatiku berfotosintesis sehingga rasaku terus tumbuh dan berkembang, beranak pinak,semakin banyak. Kau membuatku bersyukur bahwa hidup ini tak selamanya segelap malam, masih ada cahaya, selalu ada cahaya, karena kau selalu datang.
Tapi kisahku tak selalu pagi, kisahku tak selamanya siang, akan berganti petang. Ya petang, waktu salam perpisahan pada matahari. Alarm pengingat bahwa matahariku mulai berpaling ke sisi dunia lain. Berbagi cinta, memberi pengharapan untuk merasa hangat pada yang lain. Saat kau menebar hangat pada yang lain, tahukah kau matahari, aku kedinginan bersama nestapa malam.
Mana mungkin kau tahu, kau sedang asyik bercengkrama, menyapa hangat dia dia dan dia disana. Sementara aku tenggelam dalam kelam gelap malam. Dan kau, sesekali mengintipku dalam pantulan cahaya bulan. Sekenanya. Ketika kau lelah dengan dia dia dan dia disana, kau kembali, kembali lagi padaku, memberikan senyuman yang sama hangatnya, tapi terik yang tak kalah panasnya, dan tak lupa petang untuk perpisahan lebih tragis. Apa yang salah. Aku? Kau? atau Semesta? Hentikan ! jangan naif terus terusan menyalahkan lain lain. Tidak ada yang bersalah, yang ada hanya kurang tepat. Mungkin waktu yang tidak tepat untuk kita, ya waktu memang biang keladinya, dia yang membuat kita harus berkeliling berpisah. Ada ada saja teka teki yang harus kita terka untuk meniti kisah yang mulai melelahkan ini. Sudah ku katakan jangan menyalahkan. Atau mungkin, memang aku yang tak serasi untuk matahari. Ya.. bisa jadi. Harusnya aku sadar lebih awal.
Apa yang sebenarnya aku butuhkan. Aku si tangguh yang punya sumber cahaya sendiri. Aku bisa bersinar tanpa sumber cahaya, aku hanya butuh sisetia yang sabar menghadapi sikapku yang berubah ubah, aku yang mudah bosan, aku yang selalu ingin dinomor satukan, dipeluk dengan perhatian, dicintai, bukan dikasihani untuk mengharap energi. Atau sebenarnya aku, yang bergerak mengitari watu. Tak setia menanti kamu. Matahari tak pernah beranjak. Matahari tak pernah bergerak. Hanya aku yang berlari takut hilang. Yang menanti takut malam. Yang naif sendiri, padahal mencintai bukan tentang merasa sakit sendiri. Tapi tentang bertahan menikmati siang malam. Hingga nanti kisahku dan matahari diperintah Tuhan untuk diakhiri. Maafkan.. aku hanya rindu matahari. Sampaikan salamku pada matahari, bahwaku takkan kembali.
Januari, 22; 00.28