Tak ada lagi kamu yang
memenuhi kotak inbox di handphone-ku. Tak ada lagi sapamu sebelum tidur yang
membuncah riuh di telingaku. Tak ada lagi genggaman tanganmu yang menguatkan setiap
langkahku. Tak ada lagi suara dering telepon saat jam 08.00 malam. Tak ada lagi
yang sepertimu. Tanpamu... semua berbeda dan tak lagi sama.
Aku
membuka mata dan berharap hari-hariku berjalan seperti biasanya, walau tanpamu,
walau tak ada kamu yang memenuhi hari-hariku. Seringkali aku terbiasa melirik
ke layar handphone, namun tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu yang memasok
energiku. Pagi yang berbeda. Ada sesuatu yang hilang.
Lalu,
aku menjalani semua aktivitasku, seperti biasa, kamu tentu tahu itu. Dulu, kamu
memang selalu mengerti kegiatan dan rutinitasku. Namun, sekarang tak ada lagi
kamu yang berperan aktif dalam siang dan malamku. Tak ada lagi pesan singkat
yang mengingatkan untuk menjaga pola makan ataupun menjaga kesehatan. Bukan
masalah besar memang, aku mandiri dan sangat tahu hal-hal yang harusnya aku
lakukan. Tapi... kamu tentu tahu, tak mudah mengikhlaskan perpisahan.
Rasa
ini begitu absurd dan sulit untuk dideskripsikan. Kamu membawa jiwaku melayang
ke negeri antah-berantah, dan mengasingkan aku ke dunia yang bahkan tak kuketahui.
Aku bercermin, memerhatikan setiap lekuk wajahku dan tubuhku. Aku tak mengenal
sosok di dalam cermin itu. Tak ada aku dalam cermin yang kuperhatikan sejak
tadi. Aku berbeda dan tidak lagi mengenal siapa diriku. Seseorang yang kukenal
di dalam tubuhku kini menghilang secara magis setelah kepergian kamu. Kamu
merampas habis cinta yang kupunya, melarikannya ke suatu tempat yang sulit
kujangkau. Entah di mana aku bisa menemukan diriku yang telah hilang itu. Entah
bagaimana caranya mengembalikan sosok yang kukenal itu ke dalam tubuhku. Aku
kebingungan dan kehilangan arah.
Ingin
rasanya aku melempari segala macam benda agar bisa memecahkan cermin itu. Agar
aku tak bisa lagi melihat diriku yang tak lagi kukenal. Agar aku tak perlu
menyadari perubahan yang begitu besar terjadi setelah kehilangan kamu. Aku bisa
berhenti memercayai cinta jika terlalu sering tenggelam dalam rasa frustasi
seperti ini. Aku mungkin akan berhenti memercayai lawan jenis dan segala
janji-janji tololnya. Siksaanmu terlalu besar untukku, aku terlalu lemah untuk
merasakan semua rasa sakit yang telah kausebabkan.
Bagaimana
mungkin aku bisa menemukan seseorang yang lebih sempurna jika aku pernah
memiliki yang paling sempurna?
Aku
benci pada perpisahan. Entah mengapa dalam peristiwa itu harus ada yang
terluka, sementara yang lainnya bisa saja bahagia ataupun tertawa. Kamu tertawa
dan aku terluka. Kita seperti saling menyakiti, tanpa tahu apa yang patut
dibenci. Kita seperti saling memendam dendam, tanpa tahu apa yang harus
dipermasalahkan.
Aku
menangis sejadi-jadinya, sedalam-dalamnya, atas dasar cinta. Kamu tertawa
sekeras-kerasnya, sekencang-kencangnya, atas dasar... entah harus kusebut apa.
Aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu yang terlampau rumit itu. Aku merasa
sangat kehilangan, sementara kamu dalam hitungan jam telah menemukan yang baru.
Bagaimana mungkin aku harus menyebut semua adalah wujud kesetiaan? Begitu
sulitnya aku melupakanmu, dan begitu mudahnya kamu melupakanku. Inikah caramu
menyakiti seseorang yang tak pantas kau lukai?
Jam
berganti hari, dan semua berputar... tetap berotasi. Aku jalani hidupku, tentu
saja tanpa kamu. Kamu lanjutkan hidupmu, tentu saja dengan dia. Aku tak
menyangka, begitu mudahnya kamu menemukan pengganti. Begitu gampangnya kamu
melupakan semua yang telah terjadi. Aku hanya ingin tahu isi otakmu saja, apa
kamu tak pernah memikirkan mendung yang semakin menghitam di hatiku? Atau...
mungkin saja tak punya hati?
Tak
banyak hal yang bisa kulakukan, selain mengikhlaskan. Tak ada hal yang mampu
kuperjuangkan, selain membiarkanmu pergi dan tak berharap kamu menorehkan luka
lagi. Aku hanya berusaha menikmati luka, hingga aku terbiasa dan akan
menganggapnya tak ada. Kepergianmu yang tak beralasan, kehilangan yang begitu
menyakitkan, telah menjadi candu yang kunikmati sakitnya.
Aku
mulai suka air mata yang seringkali jatuh untukmu. Aku mulai menikmati
saat-saat napasku sesak ketika mengingatmu. Aku mulai jatuh cinta pada rasa
sakit yang kau ciptakan selama ini.
Terima
kasih.
Dengan
luka seperti ini. Dengan rasa sakit sedalam ini. Aku jadi sering menulis. Lebih
banyak dari biasanya.
Aku
semakin percaya, bahwa Kahlil Gibran butuh rasa sakit agar ia bisa menulis
banyak hal.
Sama
seperti aku, butuh rasa sakit agar bisa lancar menulis... terutama yang
bercerita tentangmu.
Dariku,
(yang dulu) Kekasihmu.
0 comments:
Posting Komentar