Diam-diam memperhatikan, diam-diam suka, diam-diam jatuh
cinta, diam-diam sakit hati. Semuanya aku rasakan sendiri, tanpa orang tahu,
aku menutup semua itu sendirian. Bukan karena tidak ada yang bisa aku ajak
untuk bercerita, hanya saja aku merasa tidak pantas menceritakan hal ini
terlalu sering. Dulu memang aku selalu terbuka jika masalah hati, tapi sekarang
aku fikir sebaiknya cukup aku yang tahu tentang hatiku. Karena tidak semua
orang bisa menanggapinya dengan baik. Menurutku, cara yang paling efektif untuk
mencurahkan hati, ya, dengan menulis. Menulis membuatku lega, karena aku bisa mencurahkan
semuanya dalam bentuk tulisan.
Ini tentang seseorang yang
berhasil membuatku jatuh cinta. Entah mulai sejak kapan, yang jelas sampai sekarang
aku masih merasakan itu. Sebenarnya, aku termasuk orang yang sulit jatuh cinta.
Aku pernah mencintai seseorang, tapi perasaan itu tidak muncul begitu saja, ada
proses pendekatannya, lebih tepatnya dicintai lalu aku bisa mencintai. Kali ini
berbeda, tidak ada angin tidak ada hujan, tidak ada sinta tidak ada jojo, tiba-tiba
jatuh cinta. Saat itu tidak ada yang tahu, aku menutup perasaan itu sejak awal.
Beberapa waktu sempat membuat aku deg-degan, karena sikap dia membuatku berfikir
apakah dia juga menaruh rasa yang sama sepertiku? Tentu saja tidak, tapi
mungkin saja, iya. Sesuatu yang disebut harapan itu selalu muncul ketika
wajahnya terbayang, sulit rasanya untuk tidak berharap. Lantas, aku harus
bagaimana? Membiarkan diri ini jatuh cinta sendirian? Terlalu banyak harapan
akan membuat kita semakin sakit, apalagi jika harapan itu tidak berujung
bahagia. Untuk sementara ini, aku ingin jadi pengecut saja, mencintai tanpa
harus menunjukkannya. Tapi jika yang aku cintai kenyataannya sedang berusaha
mendekati wanita lain, aku merasa harus berganti peran menjadi orang yang tidak
mengenalinya lagi.
Semoga kau melihat ini, meski 99%
kemungkinannya tidak, tapi aku punya 1% kemungkinan lagi, kalau kau akan
melihat tulisanku.
0 comments:
Posting Komentar