Aku benci mengingat bagaimana caramu tersenyum. Aku
benci menyadari bahwa senyum itulah yang selalu berhasil membuatku jatuh cinta
dan terpana. Aku benci mengingat setiap lekuk wajahmu, bagaimana wajah
tampanmu, itu telah menjadi pemandangan favoritku. Aku benci menerima kenyataan
bahwa aku tidak lagi punya kesempatan untuk memandangimu.
Tentu ada yang
berbeda di sini. Kamu tidak tahu hari-hari penuh ketakutan yang aku lewati
tanpa membaca pesan darimu. Kamu tidak mengerti hari-hari yang kurasa semakin
sepi karena tidak lagi mendengar suaramu di ujung telepon. Kamu tidak paham
betapa aku merindukan caramu memelukku, caramu merangkulku, caramu menenangkan
bahwa dunia tidak akan meledak, dan aku percaya begitu saja pada kata-katamu
seakan kamu telah membaca semua pertanda dalam hidupku.
Aku percaya kamu akan membahagiakanku, dengan segala
macam ketulusan, yang di mataku, pada awalnya adalah cinta. Aku percaya, semua
rasa mengalah yang aku berikan, semua air mata yang terjatuh saat aku memelukmu
dengan perasaan rindu itu, akan segera berganti menjadi kedamaian seutuhnya.
Aku tidak tahu, mengapa aku percaya begitu saja, dalam dirimu, kulihat sosok
yang sama dengan diriku, hanya saja kamu laki-laki dan aku perempuan. Aku jatuh
cinta padamu karena aku merasa sedang mencintai diriku sendiri. Aku percaya
padamu dan telah menjadikanmu separuh dari diriku, setelah kamu pergi, ternyata benar; memang pada
akhirnya aku kehilangan setengah dari diriku. Aku kini menjalani hari, sebagai
aku yang tidak utuh.
Sehari setelah kamu pergi, masih
kurasa ketidakyakinanku untuk jauh darimu. Hal itu
pun masih terjadi, ketika seminggu kamu tidak lagi menghubungiku, ketika semua
tentangmu telah kuhapus dari memori ponselku. Seringkali, terbesit dari
pikiranku untuk memintamu kembali, tetapi aku pada akhirnya sadar diri, aku
tidak bisa selalu berada di antara dua hati. Aku akan jadi pendosa paling bodoh
jika menginginkan kamu mengakhiri hubunganmu dengan kekasihmu. Aku tidak sekuat
itu dan aku tidak ingin sejahat itu.
Kamu ingat? Pukul sebelas
malam kamu menelponku tiba-tiba, saat itu aku sudah tidur, dering telpon kedua
baru aku bisa mengangkat telponmu, dalam percakapan telpon itu kamu mengatakan
agar aku tidak kaget perihal pacarmu yang mengirim pesan padaku karena dia
fikir aku yang merebutmu. Kamu juga memintaku menghentikan semua dan kita berjalan dengan
alur serta peraturan yang kamu buat sendiri. Kamu mengatakan itu tanpa
berfikir bagaimana perasaanku. Tidak, aku tidak marah, aku juga tidak mengatakan
apa-apa, kemudian kamu menutup telponnya.
Kamu tahu, malam itu, aku mendengar ucapanmu dengan perasaan hancur. Hari itu, aku menyadari bahwa
sebenarnya kamu tidak membutuhkanku lebih dari sekadar teman yang mengisi
kekosonganmu. Malam itu, ketika kamu memintaku tidak lagi menulis tentangmu,
aku menyadari bahwa cerita kita tidak akan tamat dengan akhir bahagia. Dan, kujawab walaupun dalam hati mengapa aku
hanya berani menuangkan kesedihanku dalam semua tulisanku, karena itu satu cara agar aku bisa mengabadikanmu.
Karena bagimu, untuk mendapatkan perempuan sepertiku,
bisa kamu lakukan dengan jentikan jari. Karena bagimu, untuk mendapatkan teman
senang-senang, yang bisa kau peluk dan
kau rangkul, bukanlah hal yang sulit dilakukan. Sayangnya,
aku terlalu bodoh menyadari di awal. Aku tidak bisa sejahat untuk menganggapmu
hanya sekadar teman senang-senang. Aku tidak bisa untuk tidak melibatkan
perasaan dalam hubungan kita. Apalagi di dukung oleh caramu yang serius
menatapku, caramu berkata cinta padaku, caramu memelukku dengan pelukan tidak
ingin kehilangan.
Aku tidak bisa menjadi jahat ketika aku jatuh cinta
padamu, meskipun dari awal aku sudah berfikir bahwa kamu
akan menyakiti. Rasa takut untuk terus menjadi jahat telah
membayang-bayangiku. Aku bahkan ingin sepenuhnya memilikimu lagi, aku bahkan
tidak ingin pelukmu kau berikan
untuk wanita lain, aku bahkan ingin meraup habis seluruh waktumu agar aku bisa
menjadi duniamu. Aku menyerah menjadi orang jahat, karena berjalan dalam
ketakutan akan kehilanganmu setiap saat bukanlah hari-hari yang menyenangkan
untuk dijalani.
Aku memilih mengakhiri, melepaskanmu pergi, dan hidup
dengan rasa sakit hatiku sendiri. Malam hari, ketika kamu pergi, kamu berkata bahwa tidak hanya aku yang
terluka, tetapi kamupun merasakan luka yang sama. Aku yakin, itu hanyalah
kalimat penghiburan semata, karena kamupun juga kaget ketika tahu ternyata aku
punya kekuatan sebesar itu untuk kamu tinggalkan. Kamu tentu
begitu percaya diri bahwa aku akan sesabar itu menghadapi sikapmu. Tapi,
wahai Sayangku-yang-aku-cintai-karena-kelemahanmu-itu, aku ingin memberitahu
padamu, rasa memiliki dirimu kian hari kian besar, rasa ingin menghancurkan
hubunganmu dan kekasihmu semakin tergambar jelas di otakku, iblis dalam diriku
kian menguat dan bertumbuh. Kita mengawali semua dengan buruk, dan inilah
saatnya aku mengakhiri semua dengan baik.
Melepaskanmu pergi adalah keputusan yang kupilih. Kamu
berkata tidak hanya aku yang terluka, tapi kamupun juga terluka. Namun,
nyatanya, perkataanmu tidak terbukti sama sekali. Kamu tetap bahagia dengan
kekasihmu dan bisa menganggap aku tidak pernah ada dalam hidupmu. Tapi, aku
berjalan sendirian, meninggalkan kamu yang di belakang, dan kembali menata
hatiku yang telah kau hancurkan.
Jadi, aku tidak perlu berpanjang lebar, siapa yang sebenarnya paling sakit di
sini.
Aku tidak ingin menjadi jahat lagi. Karena aku cukup
bahagia menjadi aku yang sekarang. Aku sudah cukup bahagia, melihatmu tetap
bahagia bersama kekasihmu, dan tidak lagi membutuhkan pelukku. Aku sudah cukup
bahagia hanya dengan menatapmu dari jauh. Aku sudah cukup bahagia merawat luka
dengan tanganku sendiri.
Aku percaya, Tuhan akan menyembuhkanku. Aku percaya,
waktu akan memperbaiki semua. Kamu tentu penasaran mengapa dulu aku bersedia menemani kamu lagi walau hanya sekedar telpon saat kamu pulang kerja. Alasan
terkuat yang membuatku ingin menjadi kekasihmu adalah karena aku ingin
mengenalkan betapa Tuhan menyediakan keajaiban lebih dari apa yang bisa kamu
miliki hari ini.
Alasan terkuat untuk bersamamu adalah aku ingin
mengajakmu pulang, tapi aku tidak bisa memaksa orang yang sudah terlalu jauh
pergi untuk kembali ke ke rumah yang harusnya dia tempati. Jika bagimu
kekasihmu adalah jalan pulang yang tepat, silakan lakukan dan jalani sebisamu,
sebelum pada akhirnya kamu menyadari-- aku adalah jalan pulang yang harusnya
sejak dulu kamu ikuti.
Nikmati
rumahmu hari ini, sebelum pada akhirnya kamu menyesal dan menyadari, bahwa
hanya aku rumahmu untuk kembali.
Dari perempuan,
yang pernah mencintaimu.
0 comments:
Posting Komentar