Rabu, 22 April 2026

Merayakan Lelah: Sebuah Catatan Kecil tentang Ibu Dua Anak

Halo semua. Hari ini aku ingin sedikit bercerita, bukan sebagai sosok yang selalu terlihat "sempurna" di media sosial, tapi sebagai seorang Ibu yang sedang berjuang di dunianya yang kecil namun sangat ramai.

Kalau ada yang tanya gimana rasanya jadi Ibu dari anak kembar, jawabannya cuma satu: A beautiful chaos.


Keputusan yang Tak Pernah Kusesali

Perjalananku dimulai tak lama setelah menyandang gelar sarjana. Di saat teman-teman sebayaku mungkin sedang mengejar karier di gedung perkantoran, aku memilih untuk menikah dan langsung dititipkan amanah luar biasa: anak kembar. Jujur, aku tidak pernah menyesali peranku sebagai Ibu Rumah Tangga. I embrace this role with all my heart. Bisa menemani setiap detik pertumbuhan mereka, melihat milestone demi milestone secara langsung, itu adalah kemewahan yang tak ternilai harganya.

Tapi, aku tetap manusia biasa. Fase lelah itu pasti ada. Ada kalanya rumah terasa sangat sempit karena riuhnya suara tangisan dan tawa yang bersahutan. Jangankan mau me-time berjam-jam, sekadar mau ke kamar mandi saja butuh perjuangan luar biasa agar mereka bisa "lepas" sebentar. It’s exhausting, both physically and mentally.


Mencari Jati Diri di Sela Kesibukan

Kadang, memori masa lalu suka mampir di kepala. Dulu, aku adalah perempuan yang aktif berinteraksi dengan banyak orang, ikut berbagai kegiatan untuk menambah wawasan, atau sekadar datang ke acara book tour penulis kesayangan. Aku memang bukan tipe orang yang suka keramaian konser musik, kecuali kalau itu konser tunggal penyanyi favoritku.

Dulu, aku punya kendali penuh atas waktuku sendiri. Sekarang? Waktuku adalah milik mereka.

Ada keinginan kecil di sudut hati: I just want one day to celebrate myself. Sehari saja untuk mencari kembali jati diriku yang dulu, tanpa harus mendengar panggilan "Ibu" setiap lima menit. Hanya sehari untuk bernapas pelan dan melakukan apa yang aku suka. Tapi lucunya, aku sendiri tahu—baru satu jam jauh dari mereka pun, rasanya pasti sudah rindu setengah mati. I can’t stand being away from them for too long.


Lelah yang Berkah

Di tengah rasa lelah yang luar biasa, aku selalu mencoba untuk tetap think positive. Aku percaya bahwa apa yang aku jalani sekarang, setiap keringat dan rasa kantuk yang aku tahan, semuanya atas ridho Allah. Aku yakin Allah senang dengan lelahnya seorang Ibu yang tulus mengurus keluarganya. Lelah ini bukan sekadar capek, tapi ini adalah bentuk ibadahku.

Mungkin aku belum sempurna sebagai Ibu. Masih sering merasa ingin mengeluh, masih sering ingin "kabur" sejenak. Tapi melihat mata bening mereka saat tertidur, semua rasa lelah itu rasanya menguap begitu saja. I am tired, but I am beyond grateful.


Terima kasih sudah membaca curahan hati ini. Untuk para Ibu di luar sana yang mungkin sedang merasakan hal yang sama: kalian hebat. Lelahmu itu berharga, dan tak apa sekali-kali ingin merayakan diri sendiri. Karena untuk menjaga kebahagiaan anak-anak, kita juga perlu menjaga kebahagiaan diri kita sendiri.


With love,

Seorang Ibu yang Sedang Belajar.

0 comments:

Posting Komentar